Monday, 16 June 2014

APAKAH QTA BISA MERAMAL MASA DEPAN QTA SENDIRI?


Tak perlu paranormal atau dukun, Anda bisa kok meramal sendiri masa yang akan datang....

Pernahkah Anda bertanya, apa tujuan Tuhan menciptakan usus buntu? Ternyata usus inilah yang menjadi hunian aman bagi bakteri baik ketika seseorang terkena diare. Saat semua isi perut terkuras habis, maka dalam usus inilah, para bakteri tersebut bernaung agar tetap bisa bertahan dan tidak ikut keluar dari tubuh, semua itu demi menyelamatkan sistem cerna orang itu sendiri.

Jadi jika ada maksud khusus bagi usus buntu , yang sepele dan kerap disangka tak berguna, maka pasti ada tujuan untuk setiap hal yang kita alami di dunia ini.

Ada tujuan mengapa kita lahir...
Ada tujuan mengapa kita dibesarkan di keluarga A, dan bukan keluarga B...
Ada tujuan mengapa kita harus diolok-olok...
Ada tujuan mengapa kita mesti mengalami pedihnya diabaikan orang lain...
Ada tujuan mengapa kita harus bekerja keras hingga malam hari...
Ada tujuan mengapa kita sampai bisa ditipu oleh teman sendiri...
Ada tujuan mengapa kita harus patah hati dan putus dengan si dia...

Coba Anda lanjutkan sendiri kalimat-kalimat tadi, untuk setiap perkara yang terpikirkan oleh benak Anda. Sebab selalu ada tujuan untuk semua itu. Tak pernah sebuah keadaan terjadi tanpa ada tujuan di baliknya. Tak pernah ada kejadian yang tak memiliki hikmah di dalamnya. Hal ini dikarenakan Tuhan Sang Pencipta bukanlah Tuhan yang sembarangan dalam mencipta. Ia membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing.

Dengan mencari tahu dan memahami tujuan serta hikmah di balik setiap peristiwa, maka kita akan lebih mudah membaca lembar-lembar buku kisah kehidupan diri sendiri.

Siapa tahu olokan itu justru membuat kita lebih terpacu untuk menjadi orang yang lebih baik lagi?
Siapa tahu putus dengan si A malah memberi kita kesempatan untuk bertemu dengan si B yang jauh lebih baik?
Siapa tahu keluarga C tak seharmonis kelihatannya?
Siapa tahu diabaikan membuat kita belajar untuk tidak turut mengabaikan orang lain?

....dan seterusnya.....

RENUNGAN :
Kini, setelah merenungkan itu semua, Anda hanya tinggal melihat hasilnya saja. Apa yang berhasil dibentuk oleh masa lalu Anda, itulah masa yang sekarang Anda jalani. Dan, masa depan akan lahir akibat keputusan masa kini. Mudah bukan, kini siapa coba yang berani bilang Anda bahwa butuh peramal?

SUMBER: KapanLagi.com

KISAH DEWA YUE LAO SEN (DEWA JODOH)


Alkisah pada masa Dinasti Tang, ada seorang pemuda berusia 35 tahun yang bernama Wei Gu. Pada suatu hari ketika Wei Gu sedang berjalan di kota Song Cheng, dia melihat seorang laki-laki tua berambut dan berjenggot putih yang membawa tas hijau dan sejilid buku. Laki-laki tua tersebut sedang sibuk membaca sebuah buku di bawah penerangan cahaya bulan.

Didera oleh rasa penasaran, Wei Gu menghampiri dan bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan, Pak Tua?

Laki-laki tua itu menjawab, “Saya sedang memeriksa daftar pernikahan manusia. Di tas saya ada benang merah untuk mengikat kaki pasangan yang saling berjodoh.”

Wei Gu yang ingin tahu siapa jodohnya, bertanya lagi, “Kalau begitu, maukah Anda menunjukkan kepada saya siapa calon istri saya kelak?”

Kemudian Wei Gu dan laki-laki tua itu pergi bersama-sama ke sebuah pasar. Mereka melihat seorang wanita tua yang buta sedang menggendong seorang anak perempuan kecil berusia tiga tahun. Wanita tua ini adalah seorang penjual sayur yang miskin.

Laki-laki tua berkata kepada Wei Gu, “Anak perempuan kecil ini akan menjadi istrimu di masa depan.”

Mendengar hal ini si pemuda tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Hai Pak Tua, Anda ini ngomong sembarangan dan ngawur, mana mungkin anak kecil itu merupakan jodohku? Bukankah ia hanya seorang anak kecil dan tidak memiliki hubungan apapun denganku!”

Laki-laki tua tadi yang sesungguhnya merupakan Yue Lao hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Wei Gu sendirian.

Wei Gu berpikir bahwa hal tersebut sungguh sulit dipercaya. Dia menyuruh pelayannya untuk membunuh anak perempuan itu dengan pisau. Akan tetapi, pelayannya gagal membunuh anak kecil itu. Anak kecil itu hanya terpeleset dan jatuh. Kepalanya membentur tepi selokan hingga terluka. Pada saat itu, pelayan Wei Gu mengira anak itu sudah mati.

Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, empat belas tahun telah berlalu. Wei Gu telah berhasil menjadi seorang pejabat kota Xiang Zhou yang cukup terpandang. Pada suatu hari, dia mengumumkan bahwa dia akan mengadakan sebuah pesta pernikahan besar-besaran. Wang Tai, gubernur Xiang Zhou menjodohkan Wei Gu dengan putrinya dan mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Putrinya adalah seorang wanita yang sangat cantik.

Setelah pesta yang meriah itu usai, di dalam kamar pengantin sang mempelai pria perlahan-lahan membuka kerudung merah yang menutupi wajah rupawan sang mempelai wanita. Betapa heran dan terkejutnya Wei Gu setelah melihat ada tanda bekas luka di dahi sang istri. Tanda bekas luka ini sebelumnya belum pernah terlihat olehnya karena sang istri menutupi tanda bekas luka tersebut dengan rambutnya.

Dia bertanya kepada istrinya, “Dindaku sayang, bagaimana ceritanya sampai bisa ada bekas luka di dahimu? Siapa yang telah begitu kejam dan tega menyakitimu seperti ini? Coba utarakanlah padaku ! Aku akan membuat perhitungan dengan bajingan itu!”

Sang istri menjawab, “Kakanda sayang, belasan tahun yang lalu, ketika saya masih kanak-kanak, di pasar di kota Song ada seorang pemuda brengsek yang dengan sengaja ingin membunuhku. Aku terjatuh sehingga dahiku terluka dan meninggalkan bekas luka hingga kini!”

Karena penasaran, Wei Gu bertanya lagi, “Apakah Dinda sewaktu kecil bersama dengan seorang wanita penjual sayur di pasar?”

Sang istri mengakui, “Benar, Kakanda. Sesungguhnya saya adalah puteri Nyonya Chen, seorang pedagang sayur. Sepeninggal ibu saya, Gubernur Wang mengangkat saya sebagai anaknya.”
Seketika itu juga sang suami tersentak dan ingatannya kembali ke masa lalunya dan dia percaya bahwa kata-kata Yue Lao bukan sekedar isapan jempol belaka.

“Ah, ternyata apa dikatakan orang tua itu sungguh tepat. “Maafkan saya, Dinda. Ampuni saya! Sebenarnya saya lah yang menyuruh orang untuk membunuhmu sewaktu kamu masih kecil itu.”

Wei Gu kemudian menceritakan tentang pertemuannya dengan seorang laki- laki tua dan segala hal yang dia telah ketahui dan lakukan. Dia sama sekali tidak berbohong dan mengakui segala perbuatannya.

Sang istri menjadi terkejut mendengar hal ini. Namun, karena kebesaran hatinya, sang istri ternyata dapat memaafkan sang suami, mengingat hal tersebut terjadi belasan tahun yang lalu dan sekarang suaminya memiliki tabiat yang baik.

Magistrat kota mendengar perihal tersebut dan menamakan pondokan tempat Wei Gu menginap sebagai "Pondokan Perjodohan." Semenjak saat itu, orang tua tersebut dipuja sebagai Yue Xia Lao Ren (orang tua di bawah bulan).

RENUNGAN :
Demikianlah sebuah cerita rakyat Tiongkok yang disampaikan dari generasi ke generasi hingga kini. Cerita ini tersebar dan orang-orang berdoa kepada Yue Xia Lao Ren untuk memohon jodoh dan pernikahan. Hari kebesaran Dewa Yue Xia Lao Ren diperingati pada tanggal 15 bulan 8 Imlek.

Tuesday, 10 June 2014

KISAH DEWA LANGIT UTARA (HIAN THIAN SIANG TEE)


Dikisahkan Yu Huang Da Di (Giok Hong Tay Tee – Hokkian) telah menyatakan keinginnya untuk turun ke dunia, maka satu diantara ketiga rohnya lalu lahir sebagai manusia pada keluarga Liu.
Ayahnya Liu Tian Jun, kemudian memberi nama Zhang Sheng yang berarti “Tumbuh Subur”. Liu Zhang Sheng tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas. Pada usia tiga tahun ia sudah dapat membawakan sajak dan membuat syair.

Di taman keluarga Liu (Law – Hokkian) itu terdapat pohon yang besar dan tinggi serta memancarkan cahaya yang berkilauan. Ternyata disitu bersemayam Duo BAo Fo (To Po Hud – Hokkian) atau Buddha Praburatna Tathagata. Sang Buddha melihat Liu Zhang Sheng begitu tekun bersembahyang di bawah pohon itu, begitu tulus memujanya, sehingga ia merasa kasihan dan meninggalkan pohon itu. Sepeninggal Duo Bao Fo maka pohon itu menjadi kering dan cahayanya lenyap. Liu Zhang Sheng sangat sedih melihat pohon kesayangannya layu.

Duo Bao Fo lalu muncul dihadapannya dan menjelaskan mengapa pohon itu bersinar berkilau-kilauan tapi sekarang layu. Zhang Sheng menyatakan ingin ikut sang Buddha pergi ke istana langit. Sang Buddha menyanggupi, tapi orang tuanya tidak mengijinkan. Liu Zhang Sheng memaksa. Diantara ratap tangis orang tuanya, dia ikut Duo Bao Fo terbang kelangit. Oleh sang Buddha dia diantar ke San Qing Tian (Sam Tjeng Tian – Hokkian yang berarti istana tiga kesucian) tempat kediaman Miao le Tian-zun seorang tokoh agama Dao(Tao). Setelah mengetahui keinginan Liu Zhang Sheng yaitu ingin menjadi Dewa, Miao Le mengatakan bahwa untuk menjadi dewa, ia harus lahir di dunia kembali, untuk bertapa dan mengalami berbagai kesukaran dan cobaan, serta tahan menderita. Lalu Miao Le menambahkan “sebagai manusia kau harus menghilangkan pikiran yang bukan-bukan, kalau ingin berhasil. Sekali berbuat kesalahan, kau akan gagal”.

Kembali Liu Zhang SHeng menitis ke dunia, kali ini menjadi seorang putra raja yang bernama Xuan Ming. Karena kegagahannya Xuan Ming akhirnya diangkat menggantikan ayahnya yang wafat dan menjadi raja di negeri itu. Pada suatu hari Miao Le Tian Zun datang dan mendidiknya memahami masalah kedewaan. Di bawah asuhan Miao Le, ia lalu meninggalkan segala kemewahan dunia sebagai raja dan mengikuti Miao Le pergi ke gunung untuk bertapa. Di gunung Feng Lai Shan (Hong Lay San – Hokkian) mereka mendirikan gubuk dan tinggal disana sambil mempelajari kitab-kitab suci dan ajaran-ajaran Dao.

Sudah bertahun-tahun Xuan Ming bertapa, maka suatu hari Miao Le Tian Zun (Biauw Lok Thian Cun – Hokkian) berniat mengujinya. Disuruhnya Xuan Ming turun gunung untuk membeli buah tao, Miao Le menyamar menjadi seorang wanita desa yang cantik dan mencegatnya sambil menawarkan buah persik dengan harga luar biasa mahalnya yaitu 1.000 tael emas sebuah. Tapi bila Xuan Ming mau memperistrikannya, maka buah persik tersebut diberikannya dengan gratis. Xuan Ming terpaksa mengabulkan permintaannya dengan syarat “Aku adalah seorang pertapa, dalam hidup ini memperistrimu adalah tidak mungkin, hanya pada penitisan yang akan datang aku bersedia mengawinimu”. Si wanita dengan tersenyum menjawab, “ Dalam penitisan yang akan datang tidaklah menjadi soal, yang penting adalah kesanggupanmu. Sekarang terimalah buah ini”. Tiba-tiba wanita itu lenyap dan Miao Le Tian Zun muncul di hadapannya dengan wajah gusar “Engkau menginginkan seorang wanita berarti kau masih terikat pada keduniawian, karena itu untuk mencapai kedewaan pada saat ini adalah mustahil, kau harus menitis kembali ke dunia”. Xuan Ming menangis menyesali perbuatan dan kecerobohannya.

Akhirnya dengan diantar oleh Miao Le, Xuan Ming menitis kembali lagi ke dunia negeri Jing Luo Guo (Ceng Lok Kok – Hokkian) sebagai putera raja yang bernama Xuan Yuan Tai Zi.

Ketika berusia 15 tahun, dalam suatu keramaian pada perayaan Yuan Xiao (Goan Siauw – Hokkian, Capgome), Xuan Yuan menjadi dingin hatinya melihat banyaknya kesengsaraan dan kekerasan di masyarakat. Dilihatnya orang berkelahi karena berebut wanita, seorang penjambret dihajar oleh massa sampai babak belur, orang kaya dengan segala kemewahannya berpesta pora, sedang di jalan-jalan orang miskin mati kelaparan. Ini semua menggugah keinginannya untuk menjadi dewa dengan meninggalkan keduniawian, seperti pada penitisan yang lalu. Mendengar keinginannya ini raja sangat marah. Xuan Yuan dijebloskan dalam penjara. Pada saat ia dalam penjara itulah Miao Le Tian Zun datang menolongnya dan membawanya ke gunung Wu Dang Shan (Bu Ton San – Hokkian).

Di sana ia melanjutkan tapanya untuk menjadi dewa. Berkali-kali ayahnya menyuruh orang untuk meminta dia pulang, tapi tekadnya tetap teguh, ayahnya tidak dapat berbuat apa-apa. Setelah 20 tahun bertapa, Miao Le diam-diam menyuruh malaikat penguasa gunung Wu Dang, untuk mengujinya. Sang malaikat menyaru sebagai seorang wanita cantik yang mencoba dengan berbagai cara untuk merayu Xuan Yuan. Xuan Yuan kehabisan akal untuk menolaknya, ia lalu bangkit dari meditasinya dan meninggalkan tempat itu. Di kaki gunung ia melihat seorang wanita tua mengasah sebatang besi di atas batu.

Ketika Xuan Yuan bertanya apa maksudnya mengasah besi, nenek itu menjawab dia sedang membuat jarum untuk cucunya. Xuan Yuan termenung mendengar ucapan nenek, ia sadar akan makna yang terkandung dalamnya. Dengan teguhnya hati, besi batangan pun dapat digosok menjadi jarum. Xuan Yuan lalu kembali menjalankan tapanya dengan tekun, setelah berhasil mengatasi berbagai godaan. 20 tahun kemudian Miao Le menjemputnya dan naik ke langit untuk bertemu dengan Yu Huang Shang Di (Giok Hong Sian Tee – Hokkian). Yu Huang lalu berfirman dan mengangkat Xuan Yuan menjadi dewa dengan gelar Xuan Tian Shang Di dan berkuasa di sebelah utara dan bertugas memerangi kejahatan serta menangkap siluman dan iblis yang mengacau dunia.

Selanjutnya dikisahkan Xuan Tian Shang Di turun ke bumi menaklukan berbagai siluman, antara lain siluman ular dan siluman kura-kura, yang kemudian menjadi pengikutnya. Disamping itu seorang tokoh dunia gelap Zhao Gong Ming (Tio Kong Bing – Hokkian) juga ditaklukkan dan menjadi pengawalnya, sebagai pembawa bendera berwarna hitam.

Dalam kisah ini, kura-kura dan ular yang merupakan lambang Dewa Utara (Xuan Wu) sengaja dipersonofikasikan sebagai manusia untuk lebih menonjolkan Zhen Wu. Akhirnya kisah ini dihubungkan dengan sejarah dinasti Ming dimana diceritakan bagaiman Zhen Wu atau Xuan Tian Shang Di membantu Zhu Yuang Zhang mengalahkan kerajaan Yuan (Mongol).

RENUNGAN:
Cerita ini memberikan masukan terhadap Qta bahwa Qta harus tekun dan sabar dalam menghadapi roda-roda kehidupan yang keras selalulah bersyukur apa yang telah Qta dapati hari ini.