Showing posts with label Kisah tentang Cinta. Show all posts
Showing posts with label Kisah tentang Cinta. Show all posts

Monday, 18 August 2014

KISAH KEBAHAGIAAN DENGAN HATI YANG RUSAK


Alkisah, hiduplah seorang kakek dan seorang pemuda. Pada masa itu, semua manusia bisa memamerkan hatinya, setiap hati bisa diperlihatkan pada orang lain, karena tubuh di bagian dada tidak tertutup daging, sehingga bila pakaian dibuka, hati terlihat, tidak seperti sekarang di mana hati tidak tampak dan harus diperlihatkan dengan suara, tulisan, pandangan dan sentuhan.

Sang kakek dan sang pemuda jelas berbeda umur, berbeda pemikiran dan memiliki hati yang sangat berbeda. Sang kakek yang bekerja sebagai penebang kayu sering tidak memakai pakaian atas karena panasnya cuaca, sehingga hatinya terlihat. Hati sang kakek penuh dengan bekas luka dan berlubang. Hati kakek itu lebih mengerikan daripada keriput pada kulitnya.

Sedangkan sang pemuda yang masih gagah dan tampan, dia sering tidak memakai pakaian atas sebagai bentuk pamer dan kesombongan. Pemuda itu memiliki hati yang bersih, mulus, tanpa cacat sedikitpun. Baginya, hal itu adalah hal yang membanggakan. Dia akan memamerkan pada semua orang yang ditemui mengenai hati yang bersih tanpa satu goresan.

Lalu pada suatu hari, mereka bertemu. Si pemuda tertawa terbahak-bahak dengan angkuh. Dia menepuk dadanya dan sesumbar mengatakan, "Hai, kakek yang malang, coba kau lihat hatiku! Tidak ada cacatnya, aku menjaga dengan baik benda berharga ini. Sedangkan milikmu... Astaga, kau pasti tidak bisa menjaganya dengan baik,"

Sang kakek yang sudah renta itu hanya tersenyum, tidak ada guratan marah di dalam matanya. Dia menatap hatinya yang penuh luka, sangat berbeda dengan milik sang pemuda. Lalu kakek itu berkata, "Wahai pemuda, kenapa kau sangat menjaga hatimu?"

Pemuda sombong itu mengangkat sebelah alisnya, "Tentu saja, karena hati adalah benda yang sangat berharga, seharusnya kau tahu itu," Si kakek menjawab, "Tentu saja aku tahu, wahai anak muda. Aku tahu bahwa hati adalah sesuatu yang berharga. Kenapa dia berharga? Karena selama hidup, kau harus membaginya dengan orang lain,"

Sang pemuda terdiam lama, suara sang kakek yang bijaksana membuatnya berniat untuk mendengarkan kalimat sang kakek hingga habis. "Kau boleh saja sangat menjaga hatimu, tetapi apakah kau bahagia hanya dengan memamerkannya dan tidak membaginya dengan orang lain? Wahai pemuda, aku membiarkan hatiku dilukai orang lain, termasuk wanita. Aku juga memberikan beberapa potong hatiku untuk orang lain, bahkan orang-orang yang tidak aku kenal, dan aku bahagia karenanya, karena hatiku bisa membahagiakan orang lain. Sekalipun hatiku penuh luka dan berlubang, itulah hati yang seharusnya kau bagi dengan orang lain,"

Sang pemuda akhirnya menyadari bahwa makna dari hati adalah untuk dibagikan dengan orang lain, sekalipun hatinya harus rusak dan berlubang. Akhirnya dia mencongkel sedikit bagian hatinya dan diberikan untuk sang kakek untuk menambal sedikit bagian yang berlubang. Sang kakek berterima kasih atas pemberian itu. Dan sang pemuda, sejak hari itu mulai membagi hatinya pada orang lain. Tidak hanya itu, ada beberapa orang yang menambal hatinya yang berlubang. Dia berbahagia karena hal itu.

RENUNGAN:
Tidak selamanya Anda harus meratapi hati Anda yang terluka, patah, atau hancur. Percayalah, akan ada orang lain yang bisa menambal hati Anda. Berbahagialah karena Anda telah berani membagikan hati Anda pada orang lain.

Tuesday, 7 January 2014

KISAH ISTRI YANG TERPAKSA DAN TIDAK PERNAH BERSYUKUR TERHADAP SUAMINYA


Dikisahkan tentang pernikahan dan kisah ini dimulai dengan ratapan seorang istri dan ucapannya saktinya adalah aku membencinya. Itulah sumpah serapah yang selalu ia bisikkan dalam hatinya hampir sepanjang kebersamaan dengan suami "tercinta”. Meskipun telah resmi menikah, sang istri tak pernah benar-benar mau menyerahkan hatinya pada suaminya kecuali fisik semata. Menikah karena keterpaksaan orangtua, hanya membuat sang istri membenci suaminya sendiri dalam hidup dan pernikahannya.

Walaupun menikah dengan keterpaksaan, sang istri tak pernah menunjukkan sikap benci pada suaminya, semua terbungkus kepalsuan dan kepura-puraan. Meskipun membencinya, setiap hari Sang Istri tetap melayaninya sebagaimana tugas istri. Sang Istri merasa terpaksa melakukan semuanya karena ia tak punya pilihan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi sang istri tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuanya dari Sang Istri pun sangat menyayangi sang mantu pria karena menurut mereka, sang mantu pria tersebut adalah sosok suami sempurna untuk putri mereka yang satu-satunya.

Ketika menikah, sang istri menjadi istri yang teramat manja. Ia melakukan segala hal sesuka hatinya. Suaminya ternyata juga memanjakannya sedemikian rupa. Sang istri tak pernah benar-benar menjalani tugasnya sebagai seorang istri. Sang istri selalu bergantung pada suaminya karena sang istri menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang suaminya lakukan padanya. Sang istri merasa telah menyerahkan hidupnya pada suaminya sehingga sudah tugas suaminyalah membuatnya bahagia dengan menuruti semua keinginannya.

Di rumah, akulah ratunya, demikian kata sang istri. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, sang istri selalu menyalahkan suaminya. Sang istri tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, sang istri sebal melihat suaminya meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, sang istri benci ketika suaminya memakai komputernya meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Sang istri marah kalau suaminya menggantung bajunya di kapstock baju Sang Istri, Sang Istri juga marah kalau Sang Suami memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, Sang Istri marah kalau Sang Suami menghubunginya hingga berkali-kali ketika ia sedang bersenang-senang dengan teman-temannya. Marah melulu...

Tadinya ia (Sang Istri) memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi ia tak mau mengurus anak. Awalnya Sang Suami mendukung dan ia-pun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya Dia (Sang Suami) menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari Sang Istri lupa minum pil KB dan meskipun Dia tahu Dia membiarkannya. Sang Istri pun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahan Sang Istri terbesar pada Suaminya. Kemarahan semakin bertambah dan menjadi-jadi ketika ternyata Sang Istri mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Sang Istri memaksanya melakukan tindakan sterilisasi agar tidak hamil lagi. Dengan patuh Sang Suami melakukan semua keinginan Sang Istri karena Sang Istri mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu dengan cepat hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Sang Istri bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menunggunya di meja makan. Seperti biasa, Sang suami lah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, Sang Suami mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibunda Mertua. Sang Istri hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu Sang istri lebih memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibundanya. Yaah, sekali lagi karena merasa terjebak dan tersesat dengan perkawinannya, Sang Istri juga membenci kedua orangtuanya.

Sebelum ke kantor, biasanya Sang Suami mencium pipi Sang Istri saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, Dia juga memeluk Sang Istri sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan suara berisik. Sang Istri berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Sang Suami kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, Sang Istri pun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobinya. Sang Istri tiba di salon langganannya beberapa saat kemudian. Di salon Sang Istri bertemu salah satu temannya sekaligus orang yang tidak disukainya. Mereka mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan mereka. Tiba waktunya Sang Istri harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya Sang Istri ketika menyadari bahwa dompetnya tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasnya hingga bagian terdalam ia tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetnya tak bisa ia temukan, segera saja Sang Istri menelepon suaminya dan bertanya.

"Maaf sayang, kemarin anak kita meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku." Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan penuh emosi, Sang Istri mengomelinya dengan kasar. Ditutup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphonenya kembali berbunyi dan meski masih kesal, Sang Istri pun mengangkatnya dengan setengah membentak. "Apalagi??"

"Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?" tanya suaminya cepat , kuatir Sang Istri menutup telepon kembali. Sang Istri menyebut nama salonnya dan tanpa menunggu jawabannya lagi, Sang Istri kembali menutup telepon. Sang Istri berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiknya akan datang membayarkan tagihannya. Si empunya Salon yang sahabat Sang Istri sebenarnya sudah membolehkan Sang Istri pergi dan mengatakan ia bisa membayarnya nanti kalau ia kembali lagi. Tapi rasa malu karena "musuh"nya juga ikut mendengar Sang Istri ketinggalan dompet membuatnya gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika Sang Istri melihat keluar dan berharap mobil suaminya segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, Sang Istri semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suaminya. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali ditelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering telepon Sang Istri sudah diangkatnya. Sang Istri mulai merasa tidak enak dan marahnya kambuh.

Telepon Sang Istri baru diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakan Sang Istri belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suaminya. Sang Istri terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, "selamat sore, ibu. Apakah ibu istri dari bapak Gunawan (Bukan nama sebenarnya)?" dijawab pertanyaan itu segera dengan kata Benar. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suami ibu telah mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu Sang Istri hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, Sang Istri berjongkok dengan bingung. Tangannya menggenggam erat handphone yang dipegangnya dan beberapa pegawai salon mendekatinya dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahnya menjadi pucat-pasi seputih kertas polos.

Entah bagaimana akhirnya Sang Istri, akhirnya sampai di rumah sakit. Entah bagaimana pula tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusul dan berkumpul. Sang Istri yang hanya diam seribu bahasa menunggu suaminya di depan ruang gawat darurat. Sang Istri tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah (Sang Suami) yang melakukan segalanya untuk istrinya. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita duka itu. Suami Ibu telah tiada. Dia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, Sang Istri malah sibuk menguatkan kedua orangtuanya dan orangtua Sang Suami yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mata Sang Istri. Sang Istri hanya sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuanya. Anak-anak yang terpukul memeluk ibunya dengan erat tetapi kesedihan mendalam mereka sama sekali tak mampu membuat Sang Istri menangis.

Ketika jenazah dibawa pulang ke rumah dan Sang Istri duduk di hadapannya, Sang Istri hanya termangu menatap wajah itu. Disadari baru kali inilah Sang Istri benar-benar menatap wajah suaminya yang tampak tertidur pulas. Sang Istri mendekati wajahnya dan memandanginya dengan seksama. Saat itulah dada Sang Istri menjadi sesak teringat apa yang telah Sang Suami berikan padanya selama sepuluh tahun kebersamaan dalam pernikahaan tersebut. Sang Istri menyentuh perlahan wajah mendiang sang Suaminya yang telah dingin dan Sang istri baru menyadari inilah kali pertama kali Sang Istri menyentuh wajah suaminya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimata Sang Istri, mengaburkan pandangannya. Sang Istri terkesiap berusaha mengusap airmatanya agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirnya pada suaminya, Sang Istri ingin mengingat semua bagian wajah suaminya agar kenangan manis tentang suaminya tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmata Sang Istri semakin deras membanjiri kedua pipinya. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuat Sang Istri berhenti menangis. Sang Istri berusaha menahannya, tapi dadanya sesak mengingat apa yang telah diperbuat pada suaminya terakhir kali saat berbicara di salon.

Sang teringat betapa ia tak pernah memperhatikan kesehatan suaminya. Sang istri hampir tak pernah mengatur makan suaminya. Padahal suaminya selalu mengatur apa yang dimakan Sang istri. Sang Suami selalu memperhatikan vitamin dan obat yang harus dikonsumsi Sang Istri terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Sang Suami tak pernah absen mengingatkan Sang Istri makan yang teratur, bahkan terkadang menyuapi Sang Istri kalau Sang Istri sedang malas makan. Sang istri tak pernah tahu apa yang suaminya makan karena Sang Istri tak pernah bertanya. Bahkan Sang Istri tak tahu apa yang Sang Suami sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suaminya adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dada Sang Istri sesak mendengarnya, karena Sang Istri tahu Sang Suami mungkin terpaksa makan mie instant karena Sang Istri hampir tak pernah memasak untuknya. Sang Istri hanya memasak untuk anak-anak dan dirinya sendiri. Sang Istri tak perduli dengan Sang Suami sudah makan atau belum ketika pulang kerja dan sampai di rumah. Sang Suami bisa makan masakan Sang Istri hanya kalau ada yang bersisa. Sang Suamipun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Sang Istri tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya hanya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temannya.

Saat pemakaman, Sang Istri tak mampu menahan diri lagi. Sang Istri pingsan ketika melihat tubuh suaminya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Sang Istri tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarnya. Sang Istri terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadanya. Keluarga besarnya membujuknya dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa ia (Sang Istri) begitu terluka dengan kehilangan suaminya.

Hari-hari yang dijalani Sang Istri setelah kepergian suaminya, ternyata bukanlah kebebasan seperti yang selama ini diinginkan tetapi malah membuatnya jadi terjebak sekaligus tersesat di dalam keinginan untuk bersama suaminya. Di hari-hari awal kepergian suaminya, Sang Istri duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuanya membujuknya makan. Tetapi yang diingat hanyalah saat suaminya membujuknya makan kalau ia sedang mengambek dulu. Ketika ia (Sang Istri) lupa membawa handuk saat mandi, ia berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibunya yang datang, Sang Istri berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap suaminya yang datang. Kebiasaann Sang Istri yang menelepon suaminya setiap kali Sang Istri tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerja suaminya kebingungan menjawab telepon Sang Istri. Setiap malam Sang Istri menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi ia terbangun dengan sosok suaminya di sebelahnya.

Dulu Sang Istri begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkuran suaminya, tapi sekarang Sang Istri bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu Sang Istri kesal karena Sang Suami sering berantakan di kamar tidur mereka, tetapi kini Sang Istri merasa kamar tidurnya terasa kosong dan hampa. Dulu Sang Istri begitu kesal jika Dia (Sang Suami) melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptop Sang Istri tanpa me-log out, sekarang Sang Istri memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jari suaminya masih tertinggal di sana. Dulu Sang Istri paling tidak suka saat sang Suami membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau dihapus sang Istri. Remote televisi yang biasa disembunyikan Sang istri, sekarang dengan mudah ditemukan meski Sang istri berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu dilakukan Sang Istri karena Sang Istri baru menyadari bahwa Sang Suami begitu mencintainya dan Sang Istri sudah terkena panah cinta dari suaminya.

Sang Istri juga marah pada dirinya sendiri, ia marah ketika melihat semua kelihatan normal meskipun Sang Suami sudah tidak ada. Sang Istri marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatnya rindu. Sang Istri marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalannya. Sang Istri marah karena tak ada lagi yang membujuknya agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkannya sembahyang meskipun kini dilakukan Sang Istri dengan ikhlas. Sang Istri sembahyang karena Sang Istri ingin memohon maaf pada suami “Tercinta”, memohon maaf pada “Gusti Allah” karena telah menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padanya, memohon ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sembahyanglah yang mampu menebus dukanya sedikit demi sedikit. Cinta “Gusti Allah” pada Sang Istri ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untuknya dan anak-anak. Teman-teman Sang Istri yang selama ini dibela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian Sang Suami yang selama-lamanya.

Empat puluh hari setelah kematian Sang Suami, keluarga mengingatkannya untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menunggunya dan harus dihidupi. Kembali rasa bingung merasuki Sang Istri. Selama ini Sang Istri hanya tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suaminya. Berapa besar pendapatannya selama ini Sang Istri tak pernah peduli, yang dipedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningnya untuk dipakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, Sang Istri memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya Sang Istri terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gaji suaminya ditransfer ke rekening Istri Tercinta selama ini. Padahal Sang Istri tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana Sang Suami memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena Sang Istri tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang ia (Sang Istri) tahu sekarang ia harus bekerja atau anak-anaknya takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonus suaminya takkan cukup untuk menghidupi mereka bertiga. Tapi bekerja di mana? Ia hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh suaminya.

Kebingungannya terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahnya datang bersama seorang notaris. Mereka membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya pada Istri dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuat Sang Istri tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untuk Istri Tercinta.

Istriku Liliana (Nama Samaran) tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Gusti Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu Bahagia dan waktu tidak terbuang percuma. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga “Gusti Allah” memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk anakku, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan putraku, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan adikmu. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke Papa!

Sang Istri terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suaminya kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suaminya memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suaminya membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Sang Istri hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada mereka, sehingga ketika ajal menjemputnya Dia (Sang Suami) tetap membanjiri mereka dengan cintanya yang tulus.

Sejak itu Sang Istri tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosok suaminya yang masih begitu hidup di dalam hatinya. Hari demi hari hanya diabdikan untuk anak-anaknya dan menebus segala salah dan dosa pada suaminya. Ketika orangtuanya dan mertuanya pergi satu persatu meninggalkannya selama-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan yang begitu dalam seperti saat kesedihannya ditinggal suami Tercinta selamanya.

Kini kedua putra-putri nya berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putri nya akan menikahi seorang pemuda dari kota lain. Putri nya bertanya, "Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?"

Aku merangkulnya sambil berkata "Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima keterbatasannya (Bukan kekurangan atau kelemahannya), akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta."

Putri nya menatap ibundanya, "seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?"

Ibunda menggeleng, "bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua."

Sang Istri mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cinta kasihnya pada suaminya. Sang Istri bukan hanya telah menghabiskan sepuluh tahun untuk membenci suaminya, tetapi menghabiskan sepanjang sisa hidupnya untuk selalu mencintai suaminya. Sang Istri bebas dari suaminya karena kematian, tapi Sang Istri tak akan pernah bisa bebas dari cinta suaminya yang begitu tulus.

RENUNGAN:
Idealnya "Pria ingin menjadi cinta pertama seorang wanita. Wanita ingin menjadi cinta terakhir seorang pria." Betul, atau Benar?! Dan air mata adalah satu-satunyanya (kalau bukan salah satunya) cara bagaimana mata berbicara ketika bibir sudah tidak mampu lagi untuk menjelaskan apa yang telah membuat perasaan diri terluka. Akhir kata...

Sepi bukan berati hilang.
Diam bukan berati lupa.
Jauh bukan berati putus.

Suami atau Istri masing-masing punya 2 mata yang tidak selalu melihat..., punya 2 tangan yang tidak selalu bisa menyentuh..., punya 2 kaki yang tidak selamanya bisa berjalan bersama..., namun Suami atau Istri punya 1 Hati yang selalu mengerti dan memberi... Cintanya dengan ikhlas.

Tuesday, 19 November 2013

KISAH SEBUAH KETULUSAN DALAM KELUARGA


Alkisah di sebuah rumah mewah yang terletak dipinggiran sebuah kota, hiduplah sepasang suami istri. Dari sekilas orang yang memandang, mereka adalah pasangan yang sangat harmonis. Para tetangganya pun tahu bagaimana usaha mereka dalam meraih kehidupan mapan yang seperti saat ini. Sayang, pasangan itu belum lengkap. Dalam kurun waktu sepuluh tahun pernikahan mereka, pasangan itu belum juga dikaruniai seorang anak pun yang mereka harapkan.

Karenanya walaupun masih saling mencinta, si suami berkeinginan menceraikan istrinya karena dianggap tak mampu memberikan keturunan sebagai penerus generasinya. Setelah melalui perdebatan sengit, dengan sedih dan duka yang mendalam, si istri akhirnya menyerah pada keputusan suaminya untuk tetap bercerai.

Dengan perasaan tidak menentu, suami istri itu menyampaikan rencana perceraian kepada orang tua mereka. Meskipun orang tua mereka tidak setuju, tapi tampaknya keputusan bulat sudah diambil si suami. Setelah berbincang-bincang cukup lama dan alot, kedua orang tua pasangan itu dengan berat hati menyetujui perceraian tersebut. Tetapi, mereka mengajukan syarat, yakni agar perceraian pasangan suami istri itu diselenggarakan dalam sebuah sebuah pesta yang sama besarnya seperti pesta saat mereka menikah dulu.

Agar tidak mengecewakan kedua orang tuanya, maka persyaratan mengadakan pesta perceraian itu pun disetujui. Beberapa hari kemudian, pesta diselenggarakan. Sungguh, itu merupakan pesta yang tidak membahagiakan bagi siapa saja yang hadir dalam pesta itu. Si suami tampak tertekan dan terus meminum arak sampai mabuk dan sempoyongan. Sementara sang istri tampak terus melamun dan sesekali mengusap air matanya di pipinya. Di sela mabuknya si suami berkata lantang, “Istriku, saat kau pergi nanti. semua barang berharga atau apapun yang kamu suka dan kamu sayangi, Ambillah dan Bawalah !!“. Setelah berkata seperti itu, tak lama kemudian ia semakin mabuk dan akhirnya tak sadarkan diri.

Keesokan harinya, setelah pesta usai, si suami terbangun dari tidur dengan kepala berdenyut-denyut. Dia merasa tidak mengenali keadaan disekelilingnya selain sosok yang sudah dikenalnya bertahun-tahun yaitu sang istri yang ia cintai. Maka, dia pun bertanya “Ada dimakah aku ? Kenapa ini bukan di kamar kita ? Apakah aku masih mabuk dan bermimpi ? tolong jelaskan.”

Si istri menatap penuh cinta pada suaminya dengan mata berkaca-kaca dan menjawab, “Suamiku, ini karena dirumah orang tuaku. Kemaren kau bilang didepan semua orang bahwa engkau berkata kepadaku, bahwa aku boleh membawa apa saja yang aku mau dan aku sayangi. Di dunia ini tidak ada satu barang yang berharga dan aku cintai dengan sepenuh hati selain kamu. karena itu kamu sekarang kubawa serta ke rumah orang tuaku. Ingat, kamu sudah berjanji dalam pesta itu.”

Dengan perasaan terkejut setelah sesaat tersadar, si suami bangun dan memeluk istrinya, “Maafkan aku Istriku, aku sungguh bodoh dan tidak menyadari bahwa dalamnya cintamu padaku. Walaupun aku telah menyakitimu, dan berniat menceraikanmu, tetapi engkau masih mau membawa serta diriku bersamamu dalam keadaan apapun“.

KISAH KASIH TERBESAR KORBAN PERANG VIETNAM


Pada suatu siang, sebuah peluru mortir mendarat di sebuah panti asuhan di sebuah perkampungan kecil Vietnam. Seorang petugas panti asuhan dan dua orang anak langsung tewas, beberapa anak lainnya terluka, termasuk seorang gadis kecil yang berusia sekitar 8 tahun.

Orang-orang dari kampung tersebut segera meminta pertolongan medis dari kota terdekat. Akhirnya, seorang dokter Angkatan Laut Amerika dan seorang perawat dari Perancis yang kebetulan berada di kota itu bersedia menolong. Dengan membawa Jeep yang berisi obat-obatan dan perlengkapan medis mereka berangkat menuju panti asuhan tersebut.

Setelah melihat keadaan gadis kecil itu, dokter menyimpulkan bahwa anak tersebut sudah dalam keadaan yang sangat kritis. Tanpa tindakan cepat, anak itu akan segera meninggal kehabisan darah. Transfusi darah adalah jalan terbaik untuk keluar dari masa kritis ini.

Dokter dan perawat tersebut segera mengadakan pengujian singkat kepada orang-orang di panti asuhan - termasuk anak-anak, untuk menemukan golongan darah yang cocok dengan gadis kecil itu. Dari pengujian tersebut ditemukan beberapa orang anak yang memiliki kecocokan darah dengan gadis kecil tersebut.

Sang dokter, yang tidak begitu lancar berberbahasa Vietnam - berusaha keras menerangkan kepada anak-anak tersebut - bahwa gadis kecil itu hanya bisa ditolong dengan menggunakan darah salah satu anak-anak itu. Kemudian, dengan berbagai bahasa isyarat, tim medis menanyakan apakah ada di antara anak-anak itu yang bersedia menyumbangkan darahnya bagi si gadis kecil yang terluka parah.

Permintaan itu ditanggapi dengan diam seribu bahasa. Setelah agak lama, seorang anak mengacungkan tangannya perlahan-lahan, tetapi dalam keraguan ia menurunkan tangannya lagi, walaupun sesaat kemudian ia mengacungkan tangannya lagi.

“Oh, terima kasih,” kata perawat itu terpatah-patah. “Siapa namamu ?”

“Heng,” jawab anak itu.

Heng kemudian dibaringkan ke tandu, lengannya diusap dengan alkohol, dan kemudian sebatang jarum dimasukkan ke dalam pembuluh darahnya. Selama proses ini, Heng terbaring kaku, tidak bergerak sama sekali.

Namun, beberapa saat kemudian ia menangis terisak-isak, dan dengan cepat menutupi wajahnya dengan tangannya yang bebas.

“Apakah engkau kesakitan, Heng ?” tanya dokter itu. Heng menggelengkan kepalanya, tetapi tidak lama kemudian Heng menangis lagi, kali ini lebih keras. Sekali lagi dokter bertanya, apakah jarum yang menusuknya tersebut membuatnya sakit, dan Heng menggelengkan kepalanya lagi.

Tetapi tangisan itu tidak juga berhenti, malah makin memilukan. Mata Heng terpejam rapat, sedangkan tangannya berusaha menutup mulutnya untuk menahan isakan tangis.

Tim medis itu menjadi khawatir, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Untunglah seorang perawat Vietnam segera datang. Melihat anak kecil itu yang tampak tertekan - ia berbicara cepat dalam bahasa Vietnam. Perawat Vietnam itu mendengarkan jawaban anak itu dengan penuh perhatian, dan kemudian perawat itu menjelaskan sesuatu pada Heng dengan nada suara yang menghibur.

Anak itu mulai berhenti menangis - dan menatap lembut mata perawat Vietnam itu beberapa saat. Ketika perawat Vietnam itu mengangguk - tampak sinar kelegaan menyinari wajah Heng.

Sambil melihat ke atas, perawat itu berkata lirih kepada dokter Amerika tersebut, “Ia mengira bahwa ia akan mati. Ia salah paham. Ia mengira anda memintanya untuk memberikan seluruh darahnya agar gadis kecil itu tetap hidup.”

“Tetapi kenapa ia tetap mau melakukannya ?” tanya sang perawat Perancis dengan heran.

Perawat Vietnam itu kembali bertanya kepada Heng.. dan Heng pun menjawab dengan singkat :

“Ia sahabat saya..”

Saturday, 27 July 2013

KISAH SINGKAT: TENTANG KISAH CINTA 2 PENDEKAR YANG TERPENDAM


Jaman dahulu kala, ada dua orang pendekar yg sangat ahli bela diri. Yg satu seorang pria dgn kemahiran berpedang yg tiada tandingan. Seorang lagi adalah wanita tercantik dgn ilmu bela diri yg hebat serta memiliki hati yg baik. Keduanya adalah pasangan yg sangat cocok satu sama lain. Hanya ada satu masalah....

Mereka tidak pernah menyatakan perasaan masing-masing.

Keduanya saling menghargai, menyukasi serta mencintai satu
sama lainnya. Hanya karena keduanya berasal dari perguruan yg saling bermusuhan, serta karena sang pria telah berjanji menganggap sang wanita sebagai adik karena sahabatnya, yg dahulu hampir menikah dgn sang gadis, sebelum meninggal memintanya menjaga sang gadis.

keduanya menjaga & menahan perasaan mereka selama puluhan tahun, sementara mereka bersama membasmi kejahatan, berpetualang ke tempat berbahaya & mengadu nyawa bersama.

Keduanya menyimpan perasaan walaupun keduanya tahu perasaan masing-masing.

hingga suatu hari, ketika bertarung, sang pria terkena pisau & tak akan tertolong lagi karena lukanya terlalu parah.

sang gadis menagis menemuinya, tak mampu berkata apa-apa...
sang pria hanya memiliki beberapa waktu lagi didunia. nafasnya hanya tinggal beberapa hembusan saja.

Dan disaat sebelum menghembuskan nafasmua yg terakhir, akhirnya sang pria menyatakan cintanya pada sang gadis. 'aku mencintaimu. Hanya kamu, dari dulu."

Dan sang gadis hanya mampu meratapi kepergian sang pria yg dicintainya sejak dulu.

RENUNGAN:
Terkadang kita memiliki kesempatan untuk menyatakan perasaan pada seseorang yg kita sayangi. Namun karena perasaan takut, malu, takut ditolak, ataupun hal-hal yg bermacam lainnya, kadang kita malah menguburkan perasaan itu.

Hati manusia adalah organ tubuh satu satunya yg diberkati tuhan untuk merasakan kapan waktunya kita untuk menyimpan sesuatu... kapan saatnya kita jujur dgn perasaan kita.

jangan tunggu waktunya berlalu & kita hanya berteman dgn kenyataan kesempatan berlalu dari depan mata, seperti kedua pasangan pendekar diatas.

Wednesday, 3 April 2013

IS TOO GOOD TO BE TRUE


Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan.

Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan" katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.

"Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia..."

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.

Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.

"Aku akan mulai duluan ya", kata sang istri.

Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman... Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir...

"Maaf, apakah aku harus berhenti ?" tanyanya.

"Oh tidak, lanjutkan..." jawab suaminya.

Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia.

"Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu".

Dengan suara perlahan suaminya berkata "Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang..."

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya... Ia menunduk dan menangis...

RENUNGAN:
Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan.

Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita?
Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk...

Thursday, 28 March 2013

STORY ABOUT BLIND GIRL WITH HER LOVE


Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan kosong oleh si sopir. kemudian ia duduk, meletakkan tasnya dipangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya.

Setahun sudah lewat sejak Susan, 34, menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar kedunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustrasi dan rasa kasihan pada diri sendiri.Sebagai wanita yang independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikanyang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya dan menjadi beban bagi semua orang disekelilingnya.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku?" dia bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah. Tetapi, betapapun seringnya ia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu penglihatannya takkan pernah pulih lagi.

Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustrasi. Dia menjadi sangat bergantung pada Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus.

Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan. Mark bertekad untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi.

Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang pernah dihadapinya.

Akhirnya Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan bisa kekantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak dipinggir kota yang berseberangan.

Mula - mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati. tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak.

Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana Reaksinya nanti? Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi.

"Aku buta!" tukasnya dengan pahit. "Bagaimana aku bisa tahu kemana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku" Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus
dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri.

Dan itulah yang terjadi. Selama 2 minggu penuh Mark, menggunakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari Susan bagimana menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan menyisakan 1 kursi kosong untuknya. Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya.

Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal.

Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya, wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak
akan pernah menyerah.

Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri. Tibalah hari senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya 1 bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca,penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan cinta Mark.

Dia mengucapkan selamat berpisah.
Untuk pertama kalinya mereka pergi kearah yang berlawanan.
Senin, Selasa, Rabu, Kamis ... Setiap hari dijalaninya dengan sempurna.Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil ! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal. Pada hari Jum'at pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja.

Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata :"wah, aku iri padamu". Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak. Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untk menjalani hidup?

Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir, "Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?" Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu". Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya."Apa maksudmu?" Kau tahu minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah
itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung". kata sopir itu.

Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya. Dia beruntung,sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk meyakinkan diri, hadiah cinta yang bisa menjadi penerang dimanapun ada kegelapan.

Monday, 25 March 2013

Did i marry the right person? (Apakah Saya Menikah Dengan Orang Yang Tepat?)


Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, "bagaimana saya tahu kalo saya menikah dengan orang yang tepat?"

Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya, jadi saya menjawab "Ya.. tergantung. Apakah pria disebelah anda itu suami anda?"

Dengan sangat serius dia balik bertanya "Bagaimana anda tahu?!"
"Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini."
Inilah jawabannya!
SETIAP ikatan memiliki siklus.

Pada saat-saat awal sebuah hubungan, anda merasakan jatuh cinta dengan pasangan anda.

Telpon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat, begitu menyenangkan.

Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit.
Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan. Ngga perlu berbuat apapun. Makanya dikatakan "jatuh" cinta!

Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan "aku mabuk cinta"

Bayangkan ekspresi tersebut!
Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada anda.

Jatuh cinta itu mudah.
Sesuatu yang pasif dan spontan.
Tapi?
Setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar..
perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan.

Perlahan tapi pasti.. telpon darinya menjadi hal yang merepotkan, belaiannya ngga selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang besemangat bukannya jadi hal yang manis, tapi malah nambahin penat yang ada..

Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu, namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga anda, anda akan mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan, pada saat anda jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya.

Dan pada situasi inilah pertanyaan "Did I marry the right person?" mulai muncul, baik dari anda atau dari pasangan anda, atau dari keduanya..Nah Lho!

Dan ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan eforia cinta yang pernah terjadi.. anda mungkin mulai berhasrat menyelami eforia-eforia cinta itu dengan orang lain.

Dan ketika pernikahan itu akhirnya kandas?
Masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan mencari pelampiasan diluar.
Berbagai macam cara, bentuk dan ukuran untuk pelampiasan ini.
Mengingkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas.

Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya, hobinya, pertemanannya, nonton TV sampe TVnya bosen ditonton, ataupun hal-hal yang menyolok lainnya.

Tapi tau ngga?!
Bahwa jawaban atas dilema ini ngga ada diluar, justru jawaban ini hanya ada di dalam pernikahan itu sendiri.

Selingkuh?? Ya mungkin itu jawabannya
Saya ngga mengatakan kalo anda ngga boleh ataupun ngga bisa selingkuh,Anda bisa!

Bisa saja ataupun boleh saja anda selingkuh, dan pada saat itu anda akan merasa lebih baik.
Tapi itu bersifat temporer, dan setelah beberapa tahun anda akan mengalami kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan anda).

Perselingkuhan yang dilakukan sama dengan proses berpacaran yang pernah anda lakukan dengan pasangan anda, penuh gairah.
Tetapi, seandainya proses itu dilanjutkan, maka anda akan mendapati keadaan yang sama dengan pernikahan anda sekarang.
Itu adalah siklus...

Karena.. (pahamilah dengan seksama hal ini)
KUNCI SUKSES PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT, NAMUN KUNCINYA ADALAH BAGAIMANA BELAJAR MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN DAN TERUS MENERUS..!

Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan
Cinta NGGA AKAN PERNAH begitu saja terjadi!

Kita ngga akan bisa MENEMUKAN cinta yang selamanya
Kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke hari.

Benar juga ungkapan "diperbudak cinta"
Karena cinta itu BUTUH waktu, usaha, dan energi.
Dan yang paling penting, cinta itu butuh sikap BIJAK
Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar rumah tangga berjalan dengan baik .

Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini.
Cinta bukanlah MISTERI

Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan ataupun tanpa pasangan anda) agar rumah tangga berjalan lancar.

Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu fisika (seperti gaya Grafitasi), dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya.
Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat tubuh kita lebih kuat, beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga juga DAPAT membuat rumah tangga itu lebih kuat.
Ini merupakan reaksi sebab akibat.

Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa "MEMBUAT" cinta bukan "JATUH".

Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah DECISION, dan bukan cuma PERASAAN..!

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak mendengar...
namun senantiasa bergetar....

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak buta..
namun senantiasa melihat dan merasa..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak menyiksa..
namun senantiasa menguji..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak memaksa..
namun senantiasa berusaha..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak cantik..
namun senantiasa menarik..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak datang dengan kata-kata..
namun senantiasa menghampiri dengan hati..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak terucap dengan kata..
namun senantiasa hadir dengan sinar mata..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak hanya berjanji..
namun senantiasa mencoba memenangi..

jika ia sebuah cinta.....
ia mungkin tidak suci..
namun senantiasa tulus..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak hadir karena permintaan..
namun hadir karena ketentuan...

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan...
namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan..

Cintailah pasangan anda, seperti anda ingin dicintai olehnya
Setialah pada pasangan anda, seperti anda ingin mendapatkan kesetiaannya.