Showing posts with label Riwayat Habaib. Show all posts
Showing posts with label Riwayat Habaib. Show all posts

Thursday, 2 April 2015

16 Habaib Yang Berpengaruh Di Indonesia

16 Habaib Yang Berpengaruh Di Indonesia - HABIB atau HABAIB Peranan para ulama keturunan Rasulullah. Mulai dari periode Al-Habib Husein bin Abubakar Al-Aydrus, yang dikenal dengan sebutan keramat Luar Batang, hingga As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani. Mereka semua memiliki jasa yang sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai keislaman di nusantara. Tentunya masih banyak lagi para ulama yang memiliki peranan dalam dakwah Islamiyah di Indoensia.

PENGERTIAN HABIB
Habib di kalangan Arab-Indonesia adalah gelar bangsawan Timur Tengah yang merupakan kerabat Nabi Muhammad (Bani Hasyim) dan secara khusus dinisbatkan terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Fatimah az-Zahra (yang berputera Husain dan Hasan) dan Ali bin Abi Thalib. Habib yang datang ke Indonesia mayoritas adalah keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib dan Fatimah binti Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Baca Juga : Kisah Yusuf Mansur

16 Habaib Yang Berpengaruh Di Indonesia

Berikut 16 Habaib Yang Berpengaruh Di Indonesia :
  1. Habib Husein bin Abubakar al-Aydrus, Luar Batang, Jakarta
  2. Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Attas, Pekalongan
  3. Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas, Empang, Bogor
  4. Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Surabaya
  5. Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhor, Bondowoso
  6. Habib Abu bakar bin Muhammad Assegaf, Gresik
  7. Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, Kwitang, Jakarta
  8. Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir al-Haddad, Bogor
  9. Habib Husein bin Muhammad bin Thohir al-Haddad, Jombang
  10. Habib Jakfar bin Syaikhan Assegaf, Pasuruan
  11. Habib Ali bin Husein al-Attas, Jakarta
  12. Habib Idrus bin Salim al-Jufri, Sulawesi Tengah
  13. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, Darul Hadis, Malang
  14. Habib Muhammad bin Husein al-Aydrus, Surabaya
  15. Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, Jakarta
  16. Habib Sholeh bin Muhsin al-Hamid, Tanggul, Jember
Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, Mekah, Saudi Arabia

17 Habaib Berpengaruh Di Indonesia
Kesejukan hati dan jiwa akan terasa tatkala membaca kisah dan tauladan kaum sholihin. Mereka, dengan ketakwaannya mampu mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah.

Baca Juga : Cerita Habib Hasan bin Ja’far Assegaf (Nurul Musthofa)

Friday, 5 October 2012

Benarkah Habib itu Wali Alloh

Benarkah Habib itu Wali Allah?...
Ketika disebut kata habib, maka yang langsung terbayang dalam benak kita adalah seorang keturunan Rasulullah yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki orang lainnya dan merupakan seorang wali Allah. Itulah yang dapat ditangkap dari pemahaman masyarakat terhadap habib ini.

Lalu siapakah wali Allah yang sebenarnya Itu?...
Apakah benar setiap habib adalah wali Allah? Definisi Wali Secara etimologi, kata wali adalah lawan dari 'aduwwu (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan). Maka wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong (agama) Allah atau orang yang didekati dan ditolong Allah. Definisi ini semakna dengan pengertian wali dalam terminologi Alquran, sebagaimana Allah berfirman," Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertakwa.(QS. Yunus: 62-63)

Dari ayat tersebut, wali adalah orang yang beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya yang termaktub dalam Alquran dan terucap melalui lisan Rasul-Nya, memegang teguh syariatnya lahir dan batin, lalu terus menerus memegangi itu semua dengan dibarengi muroqobah (merasa diawasi oleh Allah), kontinyu dengan sifat ketakwaan dan waspada agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang dimurkai-Nya berupa kelalaian menunaikan kewajiban dan melakukan hal yang diharamkan. (Lihat Muqoddimah Karomatul Auliya, Al-Lalikai, Dr. Ahmad bin Sad Al-Ghomidi, 5:8).

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, Allah Ta'ala menginformasikan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Siapa saja yang bertakwa ,maka dia adalah wali Allah. (Tafsir Ibnu Katsir, 2:384). Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan dalam Syarah Riyadhus Shalihin no.96, bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Mereka merealisasikan keimanan di hati mereka terhadap semua yang wajib diimani, dan mereka merealisasikan amal sholih pada anggota badan mereka, dengan menjauhi semua hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang haram. Mereka mengumpulkan pada diri mereka kebaikan batin dengan keimanan dan kebaikan lahir dengan ketakwaan, merekalah wali Allah.

Wali Allah Adalah yang Beriman Kepada Rasulullah shallallahu Alaihi Wa Sallam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang berjudul Al Furqon Baina Auliya'ir Rohman wa Auliya'us Syaithon Hal.34 mengatakan, Wali Allah hanyalah orang yang beriman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beriman dengan apa yang dibawanya, dan mengikutinya secara lahir dan batin. Barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan wali-Nya, namun tidak mengikuti beliau maka tidak termasuk wali Allah bahkan jika dia menyelisihinya dan berbuat bid'ah, maka termasuk musuh Allah dan wali setan.

Allah Ta'ala berfirman, " Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'" (QS. Ali Imran: 31) Hasan Al Bashri berkata, "Suatu kaum mengklaim mencintai Allah, lantas Allah turunkan ayat ini sebagai ujian bagi mereka." Allah sungguh telah menjelaskan dalam ayat tersebut, barangsiapa yang mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka Allah akan mencintainya. Namun siapa yang mengklaim mencintai-Nya tapi tidak mengikuti beliau shallallahu 'alaihi wa sallam maka tidak termasuk wali Allah. Walaupun banyak orang menyangka dirinya atau selainnya sebagai wali Allah, tetapi kenyataannya mereka bukan wali-Nya. Dari uraian di atas, terlihat bahwa cakupan definisi wali ini begitu luas, mencakup setiap orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan.

Maka wali Allah yang paling utama adalah para nabi. Para nabi yang paling utama adalah para rasul. Para Rasul yang paling utama adalah 'ulul azmi. Sedang 'ulul azmi yang paling utama adalah Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dengan demikian sangat salah suatu pemahaman yang berkembang di masyarakat kita saat ini, bahwa wali itu hanya monopoli orang-orang tertentu, semisal ulama, habib, kyai, apalagi hanya terbatas pada orang yang memiliki ilmu yang aneh-aneh dan sampai pada orang yang meninggalkan kewajiban syariat yang dibebankan padanya. Kalau pun benar seseorang merupakan keturunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka hal itu hanya keistimewaan dari segi nasab saja, apabila ia tidak beriman dan beramal sholih sesuai tuntunan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam keistimewaan itu akan terkubur sia-sia dan tidak akan berarti.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Wahai kaum Quraisy atau perkataan yang mirip ini-, selamatkanlah jiwa kalian sesungguhnya aku tidak bisa menolong kalian sama sekali. Wahai bani Abdu Manaf, aku sama sekali tidak bisa menolong kalian. Wahai Abbas bin Abdilmuttholib, aku tidak bisa menolongmu sama sekali. Wahai Sofiyah bibinya Rasululllah, aku sama sekali tidak bisa menolongmu. Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah kepadaku apa yang engkau kehendaki dari hartaku, aku sama sekali tidak bisa menolongmu." (HR. Al-Bukhari, no. 4771)

Maksudnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi dirinya dan keluarganya juga beliau tidak mampu menolak kemudharatan dari dirinya dan keluarganya serta tidak mampu mencegah adzab Allah yang akan menimpanya jika mereka bermaksiat kepada Allah. Wallahu a'lam.

Sumber: Muslim Ditulis oleh Ustadz Muhammad Abduh