Showing posts with label kisah Bijak. Show all posts
Showing posts with label kisah Bijak. Show all posts

Friday, 31 July 2015

KISAH BONEKA ANJING KECIL



Boneka anjing kecil itu memang sungguh lucu dan menggemaskan. Dengan dibekali dua baterai di dalamnya, ia bisa bergerak ke depan dan ke belakang sambil mengeluarkan suara yang rada unik. Lehernya yang fleksibel, bisa bergerak manggut manggut dan matanya yang dapat bersinar sinar seiring dengan suara dan gerakannya membuat ia menjadi mainan yang sangat disukai Shanza yang masih berumur hampir empat bulan itu. Harganya pun terbilang sangat murah. Hanya dengan uang satu lembar lima puluh ribuan Rupiah, kita sudah dapat membawa pulang mainan tersebut sampai ke rumah.

Sebenarnya boneka anjing kecil itu bukanlah satu satunya barang jualan yang dijajakan di lantai dasar sebuah mall di Jakarta Selatan tersebut. Ada banyak mainan mainan lain, di antaranya adalah boneka kelinci yang berdiri dan dapat menggerak gerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan lucunya sambil diiringi suara suara yang unik juga. Dua jenis mainan ini nampaknya menjadi primadona bagi Shanza sampai sampai ia tidak mau berhenti memandangi boneka yang bergerak gerak tersebut. Dan kami pun menjadi tertarik untuk membeli dan membawa boneka anjing tersebut ke rumah.

Sesampai di rumah, walaupun dalam suasana capek dan sudah lumayan malam, boneka anjing kembali dimainkan. Kontan, suasana rumah seakan menjadi heboh dan larut dalam kegembiraan melihat mimik muka Shanza yang tersenyum-senyum dan memandangi boneka tersebut dengan rasa aneh dan seperti penasaran. Kami sekeluarga tidak henti hentinya menertawakan setiap kejadian yang lucu dan langka tersebut. Tawa semakin pecah ketika Shanza menendang boneka yang berjalan menghampiri kakinya sampai sampai boneka tersebut terguling tidak berdaya. Saking senangnya sampai sampai kami tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukan pukul 21.30.

RENUNGAN :
Kisah tadi adalah sekelumit contoh bahwa untuk menjadi bahagia, kita sebenarnya tidak perlu menunggu suatu momentum yang khusus dan besar seperti mendapat hadiah undian, kenaikan gaji, pangkat, jabatan, atau ketika berhasil memiliki rumah baru, mobil baru, atau pencapaian pencapaian lainnya. Sejatinya setiap orang dapat menjadi bahagia kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Namun demikian, seringkali kita sendirilah yang menjadikan kondisi-kondisi yang sedang kita alami sebagai penghalang menggapai kebahagiaan tersebut. Status rumah yangmasih ngontrak lah, rumah masih sempit lah, masih pegawai rendahan lah, penghasilan kecil pas pasan lah, belum punya mobil lah, belum memiliki anak lah, anak-anak masih pada bandel lah, gaji tidak naik naik lah, jabatan tidak dipromosi lah, dan banyak kondisi kondisi lain yang seolah olah menjadi penghalang untuk menjadi bahagia. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa hal-hal di atas adalah sangat penting bagi setiap orang, namun menjadikannya sebagai penghalang kebahagiaan adalah sikap yang kurang tepat.

Keputusan untuk menjadi bahagia sebenarnya ada di tangan kita sendiri. Seperti apa yang disampaikan oleh Benjamin Franklin di atas, bahwa kebahagiaan sangat tergantung dari pengaturan-pengaturan di dalam batin/pikiran kita dan bukan tergantung dari hal hal di luar kita. Jadi sekali lagi, putuskanlah untuk menjadi bahagia sekarang juga. Perbanyaklah "mainan mainan kebahagiaan" di dalam diri dan keluarga kita yang membuat kita senantiasa bersyukur atas karunia Tuhan. Dan untuk menjadi orang yang bersyukur dan bahagia, fokuslah pada apa saja yang sudah kita miliki, bukan pada apa apa yang belum kita miliki.

Thursday, 4 September 2014

KISAH APAKAH NASIB DAPAT DIRUBAH


Alkisah hidup lah seorang peramal terkenal bernama Chen pau lie dan seorang anak laki-laki tunggalnya bernama Chen wen cien disebuah kota kecil di cina selatan, pak Lie umurnya sudah 60 tahun dan anaknya baru berumur 19 tahun sedangkan istri dari pak Lie telah meninggal waktu Wen Cien berumur 15 tahun, bapak dan anak ini hid...up dengan serba bercukupan, hal ini dikarenakan pak Lie selain menjadi peramal terkenal yang ramalannya selalu tepat dia juga adalah tabib terkenal juga, tugas Wen cien setiap pulang sekolah adalah meracik obat-obatan di apotik mereka bersama dua orang pembantunya sementara pak Lie sibuk melayani pasien yang sangat banyak setiap harinya.
Begitulah kegiatan keseharian bapak dan anak tersebut, Pada suatu malam pak Lie coba meramal nasib anaknya, alangkah terkejutnya pak Lie melihat hasil dari ramalan itu, ternyata Wen Cien anak kesayangannya tidak berumur panjang dan meninggal di usia yang sangat muda yaitu pada umur 20 tahun. Pak Lie sangat terpukul dan tidak bisa menerima kenyataan ini, keesokan hari pagi-pagi buta pak Lie pergi ke gunung untuk menemui gurunya, berharap ramalannya salah.
Tapi apa mau dikata, guru pak Lie juga mengatakan hal yang sama, dengan langkah yang gontai pak Lie pulang kembali ke rumah. Sesampainya di rumah pak Lie terus melamun " kenapa anak yang begitu baik harus mati muda, siapa lagi penerus ku, buat apa harta ku berlimpah tetapi anakku satu-satunya tidak dapat ku pertahankan dan akan mati muda" gumannya dalam hati. Pak lie tidak sanggup melihat anak kesayangannya meninggal dihadapannya.
Pak Lie pun memanggil Wen Cien "anakku kamu sudah dewasa, menurut adat nenek moyang kita kamu harus pergi berkelana mencari ilmu, kini waktunya telah tiba anakku " kata pak Lie sambil meneteskan air mata, sebenarnya tak ada adat seperti itu dalam keluarga pak Lie, ini hanya ide dari pak Lie karena dia tak mau melihat anak kesayangan meninggal di hadapannya.
Wen cien pun bertanya "kenapa papa menangis? kalau papa rasa berat, kita langgar aja adat keluarga kita itu, lagipula siapa yang membantu papa nanti" pak Lie pun tersadar dan berpura-pura tegar dihapusnya air mata "Anakku adat tidak boleh dilanggar dan kamu jangan kawatirkan papa, kan ada dua pembantu kita yang setia mendampingi papa, besok pagi-pagi kamu sudah harus berangkat anakku "
Keesok paginya Wen Cien pun berangkat dengan bekal dan uang yang cukup banyak karena pak Lie tahu anaknya tak akan kembali lagi, sebagian uang tabungan pak Lie diserahkan kepada anaknya, pak Lie berharap anak nya dapat menikmati sisa hidupnya.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun pak lie pun kembali tegar meskipun terkadang pak Lie bersedih bila teringat pada anak kesayangannya itu. Setelah kepergian Wen Cien, pak Lie pun menjadi seorang dermawan yang baik hati, baginya harta tidak penting lagi, pak Lie selalu memberi pengobatan gratis terhadap pasien-pasiennya yang kurang mampu juga terhadap kedua pembantunya, pak Lie sudah menganggap mereka sebagai anaknya sendiri, setiap ada kegiatan sosial atau ada pembangunan Vihara pak Lie selalu menyumbang.
Pada suatu malam setelah hujan yang begitu deras berhenti, pintu rumah Pak Lie diketuk oleh seseorang berkali-kali, pak Lie pun bergegas keluar dari kamar, pak Lie menebak pasti ada orang yang butuh pertolongan, pak Lie pun segera membukakan pintu... dan alangkah terkejutnya pak Lie..pak Lie tidak percaya orang yang berdiri dihadapannya dengan seragam pengawai pemerintahan.
"....A cien.....Acien anak ku...benarkah itu...."teriak pak Lie dengan bibir yang bergetar dan mengucek-ucek matanya.
"Benar pak ini saya anak papa" jawab pemuda itu, lalu merekapun berpelukan rindu bertahun2 tidak bertemu, tapi dalam benak pak Lie berkata " ini tidak mungkin ....ini tidak mungkin...pu khe neng..." diusap-usapnya wajah pemuda itu pak Lie masih tidak percaya kalau itu Wen Cien anaknya atau ini arwahnya sebab seharusnya Wen cien telah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Keesok harinya pak Lie masih penasaran dan tidak percaya kalau anaknya masih hidup, pak Lie pun bergegas pergi kegunung bersama Wen Cien utk menjumpai gurunya.
Sesampai di padepokan gurunya, setelah memberi hormat pak Lie pun langsung berkata "guru ramalan kita sudah salah guru...lihat Wen Cien anakku masih hidup dan sekarang menjadi pejabat "
Guru pak Lie " ehmmmm...tidak mungkin...tidak mungkin " sambil tangannya menghitung2 " ini tidak mungkin... semua hitungan kita benar...ada apa ini " guru pak Lie menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus janggutnya yang panjang.
Akhirnya guru pak Lie pun mengintrograsi Wen Cien " Nak coba katakan pada kakek guru apa yang kamu lakukan setelah meninggalkan rumah",
Wen Cien pun bercerita " Setelah pergi dari rumah aku tidak tahu mau kemana dengan menaiki kuda, aku telusuri jalan tanpa tujuan setiap kota yang ku jumpai aku beristirahat dan esoknya ku lanjutkan kembali perjalanan... lalu tiba disebuah sungai aku melihat seorang ibu dgn ketiga anaknya yang masih kecil menangis di pinggir jembatan, ku perhatikan terus ibu itu eh..ternyata dia dan ketiga anaknya akan melompat kesungai yang dalam itu...aku pun bergegas menahan ibu itu agar tidak tidak terjun kesungai tersebut..."
Ibu itu berteriak "mengapa kamu menolongku anak muda? AKU INGIN MATI!..."
Wen Cien pun berkata "kenapa ibu mau bunuh diri...? lagi pula kenapa anak-anak juga akan ibu bunuh apa yang terjadi ibu...? "
Ibu itu menjawab" suamiku baru saja meninggal... rumah serta ladang kami di sita oleh tengkulak, sekarang kami tidak memiliki apa-apa lagi, sebenarnya saya hanya ingin bunuh diri sendirian karena tidak tahan lagi menanggung beban yang sangat berat, tetapi kalau saya meninggal, bagaimana anak-anak saya? siapa yang memilihara mereka? jadi mereka saya bawa serta."
Mendengar cerita itu Wen Cien tergugah hatinya dan memberikan uang yang cukup banyak kepada ibu itu "Bu ini ada sedikit uang semoga bisa meringan kan beban ibu, " wah ini terlalu banyak anak muda" jawab ibu itu " tidak bu...saya juga minta izin tinggal bersama ibu karena di sini saya tidak punya saudara" sahut Wen Cien.
Wan Cien pun tinggal bersama ibu itu dan membantu mengambangkan usaha keluarga ibu itu. Kehidupan merekapun sekarang jauh lebih baik dari waktu suaminya masih hidup. Dan pada suatu hari ada pengumuman dari kota raja bahwa ada penerimaan pejabat negara.Wen Cien pun ikut ujian dan akhirnya lulus dgn nilai yang sangat baik serta di terima menjadi pejabat negara.
Mendengar cerita Wen Cien Pak Lie dan gurunya termenung sejenak sambil jari-jari mereka menghitung "...Aha....ternyata nasib bisa dirubah " celoteh guru Pak Lie.
Ternyata nasib bisa di rubah itulah kenyataannya, Wen Cien dan pak Lie telah merubah nasib mereka dengan berbuat kebajikan.

RENUNGAN : Cerita ini tak jauh berbeda dengan kisah LIAU FAN.. yang merubah nasib buruknya dengan berbuat kebajikan...dari cerita ini kita bisa mengambil kesimpulan tak ada satupun makhluk adi daya yang menguasai nasib kita ...kita lah sendiri yang mengendalikan nasib kita ...dari hasil karma masa lampau dan karma saat ini.....nasib baik juga akan mejadi buruk kalau di kehidupan ini kita isi dengan perbuat buruk sebaliknya nasib buruk akan menjadi baik apabila kita isi kehidupan kita dengan perbuatan-perbuatan baik.

KISAH LIAU FAN MENGUBAH NASIB DAN TAKDIR


Ada seorang pemuda yg telah diramal bakalan hidup susah, cita2 tdk tercapai, usaha bangkrut, tdk punya keturunan dan kenyataannya memang benar2 hidupnya sangat susah dan menderita sekali.

Maka ia sering berpikir bagaimana caranya ia bisa mengubah nasibnya. Dan ia sering berkonsultasi dgn banyak orang.
Akhirnya dia menemukan seorang Bijaksana yg diseganni karna kehidupannya yg arif, kemudian org bijaksana itu memberikan nasihat sebagai berikut:
"buatlah 1000 kebaikan maka nasibmu akan berubah lebih baik"
Dia berusaha melakukan saran tsb...berbulan2 dia kerjakan.. bantu orang angkut barang, berbagi makan dgn org yg lebih susah, menyebrangkan orang di sungai, selalu sabar walau sering di ganggu, selalu senyum pada semua orang.
Tapi aneh... baru 700 an berbuat kebaikan, kok hidupnya sudah berubah menjadi lbh baik...
Dia kembali lg ke orang bijaksana tsb....
Orang arif tsb berkata: "Engkau pasti telah lakukan 1000x
Coba ditelusuri lagi."
Begitu ditelusuri satu persatu...
sampailah pada 1 hal yg ia ingat...
pemuda ini pernah mmbangun JEMBATAN agar orang2 bisa
gampang "Menyebrangi" sungai...
ternyata jembatan itu bukan 1x kebaikan, tapi setiap orang yg melintas JEMBATAN tsb dihitung sebagai 1x Kebaikan...
Marilah mengubah Nasib menjadi lebih Baik dgn MEMULAI Berbuat Baik terhadap "Semua Orang" setiap hari.

RENUNGAN : Ketika kita berbuat Jahat, Garang, iri, Kecewa, mencuri, menipu dll, maka keberuntungan menjauh, maut mulai mendekat tuk mengetuk pintu..
Sebaliknya ketika kebaikan ditabur, maut menjauh, damai dan kesejahteraan mulai mendekat.
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi putus asa.

Monday, 18 August 2014

KISAH SI PEMBUAT BONEKA CANTIK


Di sebuah desa yang aman dan damai, ada seorang pembuat boneka yang sangat terkenal. Dengan sentuhan tangannya, boneka-boneka yang dibuat seolah-olah bisa hidup. Sebab, ia selalu membuat boneka dengan hati dan perasaannya. Tak heran, setiap boneka yang dibuatnya, selalu saja jadi rebutan untuk dibeli orang.

Seiring dengan berjalannya waktu, sang pembuat boneka pun mulai menua. Ia merasa, inilah saatnya membuat karya terakhir sebelum ajal menjemput. Untuk itu, ia pun segera bersiap-siap membuat boneka terbaik yang bisa dibuatnya.

Bahan-bahan terbaik pun dikumpulkannya. Kali ini, ia bertekad membuat boneka perempuan tercantik yang tak ada bandingannya. Maka, setiap hari, setiap waktu, sang pembuat boneka pun hanya berkutat untuk terus memperbaiki karyanya.

Sekian lama membuat boneka yang akan jadi karya terakhir, si pembuat boneka pun akhirnya puas. Ia merasa, sudah membuat boneka sempurna yang akan jadi peninggalan terbaik karyanya. Ditimangnya boneka itu dengan penuh sayang, seperti anaknya sendiri.

Setelah puas menimang, si pembuat boneka membawa boneka itu ke depan cermin untuk semakin melihat kesempurnaannya. Ia pun berkata. "Hai boneka cantik. Lihatlah dirimu. Engkau pasti akan jadi boneka yang bisa membawa senyum dan tawa bahagia karena keelokanmu," ucapnya.

Namun, tiba-tiba, boneka itu seolah-olah berkata. "Ah, aku tidak cantik! Lihatlah, rambutku hitam. Padahal aku ingin punya rambut pirang nan menawan. Mataku gelap. Padahal aku ingin punya mata hijau seperti indahnya pepohonan. Aku juga tak suka bentuk tubuhku yang terlalu kurus. Aku ingin tubuhku lebih berisi sehingga bisa menawan hati!"

Si pembuat boneka pun jadi sedih mendengar keluhan ciptaannya. Maka, ia pun mencampakkan begitu saja karya yang tadi sangat dipujanya. Sehingga, boneka itu pun teronggok begitu saja dan lama-kelamaan dilupakan oleh pembuatnya. Boneka yang tadinya ingin dijadikan karya terbaik, kini telah jadi benda yang tak berarti apa-apa.

RENUNGAN :
kadang kita tak pernah puas dengan apa yang sudah kita dapat. Sibuk memikirkan apa yang belum dimiliki, dan lupa bersyukur dengan apa yang sudah didapatkan. Sehingga, tanpa sadar, apa yang sudah didapat, lama-lama justru akan berkurang atau bahkan hilang.

Padahal, Tuhan sebagai Sang Maha pencipta, telah memberikan kesempurnaan yang tiada tara bagi kita. Hanya saja, sering kali kita justru terfokus pada kekurangan yang dimiliki. Tak jarang, kita mengutuki mengapa tercipta begini, mengapa kurang begitu. Sehingga, kita lupa, bahwa kita bisa hidup saja sudah merupakan anugerah tak ternilai yang diberikan Ilahi.

Tak salah memang, jika ingin mendapat sesuatu yang lebih baik. Tak salah juga jika kita ingin mencapai sukses yang lebih tinggi. Hanya saja, jangan melupakan apa yang sudah diperoleh. Sehingga, saat mengejar yang lebih tinggi, cenderung melakukan apa saja. Akibatnya, sikut sana, sikut sini.

Mari, buka mata dan buka hati. Kita telah diciptakan dengan berjuta kebaikan dan potensi. Sebab, ada banyak hal yang patut disyukuri. Dengan memperbesar rasa syukur, kita akan mendapatkan kebahagiaan sejati. Sehingga, kita akan jadi "boneka" cantik yang bukan hanya cantik di luar, tapi juga dari dalam diri.

KISAH KEBOHONGAN KADANG TIDAK SELAMANYA BURUK


Seorang bocah berusia tujuh tahun, Ofelia namanya, dia harus mendapat perawatan medis setelah menjalani operasi usus buntu. Karena dia hanya tinggal dengan ibunya, dan ibunya tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, maka Ofelia menginap di rumah sakit seorang diri. Ibunya hanya datang setelah pulang dari kantor saat matahari sudah beranjak dari ufuk Barat.

Ofelia gadis yang pemberani, dia tidak keberatan saat harus tinggal di rumah sakit hingga pulih. Lagipula, dia tidak seorang diri, ada pasien lain yang juga dirawat satu kamar dengannya. Gadis kecil itu tidak tahu seperti apa wajah pasien yang satu kamar dengannya, karena mereka berdua dibatasi oleh gorden lebar yang tidak tembus pandang. Para perawat juga tidak pernah memberi tahu Ofelia siapa gerangan pasien yang satu kamar dengannya.

Pada hari yang membosankan, Ofelia menyapa pasien di sampingnya. Ternyata pasien itu adalah seorang pria tua yang juga baru saja menjalani operasi yang sangat panjang. Kakek itu sebatang kara, dia bisa menjalani operasi berkat bantuan dana dari pemerintah. Ofelia senang berbincang dengan kakek itu, karena dia sangat baik dan suka menceritakan masa mudanya sebagai seorang tentara. Hari-hari Ofelia jadi menyenangkan.

Tetapi, ada satu hal yang tidak disukai Ofelia dari kamar perawatannya. Jendela kamar jauh dari tempat tidur, sedangkan Ofelia tidak boleh bangun dari ranjang karena bekas operasinya belum kering. Jendela itu dekat dengan jendela si kakek, sehingga Ofelia berniat untuk meminta bekas tentara itu untuk menceritakan ada apa di balik jendela kamar mereka.

"Kakek, aku ingin tahu ada apa di balik jendela itu. Aku tidak boleh beranjak dari sini. Apakah kakek bisa melihatnya dan menceritakan padaku ada apa di balik jendela itu?"

"Tentu saja sayang, aku bisa melihat dengan jelas apa yang ada di luar melalui jendela ini," ujar si kakek dengan suara yang bersemangat. "Ada taman penuh bunga mawar di sana, banyak kupu-kupu yang terbang, sinar matahari sangat hangat, hari yang sangat cerah Ofelia, semoga kau segera pulih dan bisa melihat semua itu,"

Ofelia tersenyum senang, seolah-olah tubuhnya bisa merasakan hangatnya sinar matahari di luar sana. Gadis kecil itu juga membayangkan betapa bagus bunga mawar di taman rumah sakit. Ditambah lagi, sang kakek setiap hari selalu menceritakan hal-hal menarik di luar jendela sana. Ada burung yang membuat sangkar di sebuah pohon, ada air mancur dan banyak ikan di dalamnya.

Ofelia ingin segera sembuh, ingin melihat langsung pemandangan di luar sana. Dia menuruti semua saran dokter, perawat, dan ibunya. Akhirnya hari itu tiba, Ofelia sudah boleh pulang. Sedangkan sang kakek masih harus tinggal di rumah sakit. Karena selama ini Ofelia tidak pernah melihat wajah sang kakek, dia berniat untuk berterima kasih dengan membesuk sang kakek.

Sungguh tidak diduga, ternyata sang kakek buta. Beliau telah menjalani operasi kornea mata tetapi gagal. Selama ini dia berbohong tentang taman mawar, kupu-kupu, burung, dan air mancur di luar jendela. Di luar jendela, hanya ada deretan kamar lain, tidak ada taman apalagi yang penuh dengan bunga mawar dan kolam. Ofelia menangis, dia tidak menangis karena telah dibohongi, tetapi karena dia sangat berterima kasih kepada kakek itu.

Berkat cerita yang indah tentang ada apa di balik jendela, Ofelia memiliki motivasi untuk segera sembuh. Sejak saat itu, Ofelia selalu membesuk sang kakek hingga dia keluar dari rumah sakit. Mereka tetap berteman dan bertemu di taman kota untuk berbagi cerita, layaknya seorang kakek dan cucunya.

RENUNGAN :
kadang berbohong tidak selamanya buruk, bahkan kebohongan dari orang yang tidak kita kenal. Jangan selalu berburuk sangka pada seseorang yang pernah membohongi Anda, karena selalu ada pelajaran yang bisa Anda ambil di balik setiap kebohongan yang tercipta.

KISAH SI KEMBAR AM DAN MA


Adalah Am dan Ma, anak kembar yang bekerja sebagai pembawa air di sebuah keluarga kaya. Setiap pagi mereka akan membawa kaleng-kaleng berisi air ke rumah keluarga tersebut.

Am, adalah kembar tertua, ia punya sifat yang angkuh, tak mau susah dan egois. Am tak pernah mau mengalah dari Ma, adiknya. Apapun yang diingini harus tercapai, dan Am selalu ingin semua benda yang dimilikinya adalah yang terbaik. Sampai-sampai, kaleng timba miliknya yang sudah rusak ditukarnya dengan milik Ma untuk dipakai.

Sedangkan Ma, adalah adik yang baik. Apapun yang diberikan kakaknya, ia terima dengan tersenyum dan tak pernah marah. Dengan kaleng timba bocor milik Am, ia pun pergi bekerja tak kenal lelah. Tak sedikitpun ia mengeluh, walaupun ia harus bolak balik dua kali lebih lama dari kakaknya.

Seorang tetangga pernah bertanya, mengapa Ma tak membeli kaleng timba baru saja. Namun, Ma bilang tak punya uang. Penghasilannya selama ini digunakan sebagai biaya pengobatan ibunya yang sakit keras.

Suatu hari, Am dan Ma berangkat menimba air. Mengirimkannya ke tempat keluarga kaya seperti biasanya. Di tengah jalan, Am bertanya pada Ma, "Mengapa kamu tetap terlihat bahagia padahal kamu harus bekerja keras dengan kaleng yang reyot itu?" Kemudian Ma menjawab dengan senyum dan suara lembut, "Tak apa kakak, aku senang kok. Kaleng ini sangat berharga bagiku, ia banyak membantuku. Dan aku yakin, sebentar lagi ia akan membawa keberuntungan besar," jawab Ma. Sang kakak heran, mengapa adiknya itu begitu bodoh dan mau melakukan hal yang tak masuk akal, ia juga sebal terhadap senyum Ma yang selalu terlihat tak ada beban itu. "Bagaimana bisa kau bilang kaleng rusak itu membawa keberuntungan, kalau aku jadi kamu, sudah kutendang kaleng itu jauh-jauh dan kubuang!" kata Am. Kali ini, Ma berhenti sejenak, "Coba lihat di sekelilingmu, Kak. Apa yang kau lihat?"

Am berhenti dan menikmati pemandangan indah bunga-bunga di sepanjang jalan. Air yang selama ini menetes dari kaleng timba bocor milik Ma lah yang telah menyirami semua bunga itu hingga tumbuh subur dan indah. Esok hari, Ma akan memanen bunga itu dan menjualnya ke kota. "Bukankah aku sangat beruntung, Kak..." kata Ma.

RENUNGAN:

Ingatlah, tidak semua kekurangan itu buruk. Bisa jadi kekurangan yang Anda miliki adalah sebuah kelebihan yang masih terbungkus rapi dan belum Anda buka...

Tuesday, 22 July 2014

KISAH ANAK INDIGO BERNAMA SAM


Sam, salah seorang sahabat baikku saat berkuliah di Perth, Australia mengikuti program pertukaran pelajar selama 3 bulan. Nama lengkapnya Samuel Fernandez, ayahnya orang Spanyol dan ibunya orang Australia. Sam ramah kepada siapa saja dan dia juga punya banyak teman.

Pertama kali kami bertemu ketika dia menawarka...n bantuannya saat aku tersesat di Universitas tersebut. Karena ternyata mengambil kelas yang sama, kami jadi cepat akrab.
Ada rahasia yang ia ceritakan padaku setelah berteman dengannya selama 1 bulan. Ia seorang anak Indigo. Selama ini, ia menyimpan rahasia itu karena tak ingin orang-orang menganggapnya “freak”. Tetapi setelah kuceritakan kisah yang kualami 8 tahun lalu, ia mulai terbuka tentang kekuatannya.

Sejak ia dapat mengingat, Sam sudah bisa melihat makhluk gaib. Hal pertama yang ia ingat adalah kakeknya. Sang kakek telah meninggal puluhan tahun sebelum Sam lahir. Tetapi, Sam kecil mengira kakeknya masih hidup dan selalu bermain dengannya ketika Sam tinggal sendirian di rumah sementara kedua orang tuanya pergi berkerja.

“Kakekku orang yang ramah dan baik. Ia menceritakan banyak kisah zaman perang dunia ketika ia masih menjadi seorang tentara. Kakek selalu melindungiku dari makhluk-makhluk mengerikan. Pernah terjadi ketika seseorang dengan muka hancur dan otak terburai berusaha menyerangku. Kakek menghalaunya dan menembak orang tersebut dengan senapan miliknya yang selalu ia bawa.” Itu adalah salah satu kisah yang diceritakan Sam padaku.
Pertama kali ia mengetahui bahwa kakeknya ternyata telah meninggal adalah ketika ibunya membawa Sam ke kuburan sang kakek. fp beranda mistery. Sejak saat itu, sang kakek yang baik hati tidak pernah menampakkan dirinya lagi di depan Sam.

Hal yang paling membuat dirinya bersyukur memiliki kekuatan itu adalah kejadian saat umurnya masih 12 tahun. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang ke rumah sehabis latihan sepak bola. Sam menunggu bus yang menuju ke arah rumahnya seperti biasa. Akhirnya, sebuah Bus datang dan Sam menaiki bus tersebut.
Tetapi, dirinya sungguh terkejut. Hampir semua orang yang ada di dalam Bus tersebut menderita luka bakar dan ada beberapa yang bahkan sudah tidak bisa dikenali. ‘Apakah semua orang ini adalah hantu?’ pikirnya. Karena perasaannya tidak enak, Sam membatalkan niatnya menaiki bus itu dan menunggu bus lainnya.
Tidak berapa lama, terdengar suara ledakan dari arah bus tersebut melaju pergi. Ternyata, bus yang rencananya akan ditumpangi Sam, menabrak mobil pembawa bensin dan meledak. Hanya 2 orang yang selamat dari kecelakaan tersebut. Keduanya mengalami luka bakar berat dan cacat selamanya.

Itu adalah kemampuan unik Sam. Ia dapat melihat bagaimana kondisi seseorang yang sebentar lagi akan mati. Kemampuannya itu membuatnya bersyukur selamat dari maut sekaligus membuat hatinya sakit karena tidak bisa menolong orang-orang yang telah mendekati ajalnya.

Hari itu adalah hari terdingin pada bulan Desember. Sam dan kedua temannya berencana untuk bermain Ski. Ketika bersiap untuk meluncur dari puncak lembah tertinggi, Sam melihat leher salah satu temannya patah. Belum sempat ia berteriak memperingatinya, temannya meluncur dengan cepat dan kepalanya menghantam batu yang tersembunyi di tumpukan salju dengan keras. Seperti yang Sam lihat sebelumnya, temannya meninggal dengan leher yang patah.

Entah sudah berapa kali ia berusaha memperingati orang-orang yang sudah mendekati ajal mereka. Namun tidak ada satupun yang selamat. Kejadian ia melihat kondisi kematian orang-orang tersebut dengan kejadiannya yang sebenatnya berlangsung begitu cepat. Kekuatan itu hanya bisa ia gunakan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Terkadang ia memohon agar kekuatannya tersebut itu dihapus. Tetapi, dirinya masih hidup hingga sekarang pun berkat kemampuannya itu.

Setelah berteman dengannya beberapa bulan terakhir ini, aku menyadari bahwa senyuman dan sikap Sam hanyalah sebuah topeng. Topeng untuk menyembunyikan hatinya yang rapuh dan terluka. Terkadang, aku melihat Sam duduk menyendiri, termenung dengan kesedihan yang begitu terpancar dari matanya.
Sam, temanku. Seorang anak indigo yang tersiksa akibat kelebihannya. Hatiku masih merasakan sakit mengingat senyum pilunya.

Kini Sam telah tiada. Tidak berapa lama ketika aku pulang ke Indonesia, aku mendengar berita bahwa Sam meninggal dalam kecelakaan Bus. Entah mengapa, aku kembali teringat dengan pengalaman Sam saat umurnya 12 tahun. Mungkin Sam sudah tidak ingin lagi lari dari kematian. Mungkin Sam memang sudah ditakdirkan mati 6 tahun yang lalu. Dengan mencurangi kematian, ia berhasil bertahan hidup hingga ia menjadi lelah dengan kematian yang terus mengejar dirinya.

Hingga saat ini, aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Sam yang memilih kematian. Hanya saja, aku memiliki firasat bahwa ia memang sudah lelah dengan dunia ini. Kata-kata terakhirnya padaku saat mengantarkanku pulang di Bandara masih kuingat hingga saat ini.

“Maybe this is our last meeting. But, I beg you, do not forget about me.”
“Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir kalinya. Tapi, kumohon padamu, jangan lupakan aku.”

RENUNGAN:
Hargailah semua temanMu biarpun dia mempunyai kelebihan atau kejanggalan dalam dirinya, apalagi peringatan yang ia berikan ada baiknya kita dengarkan dan laksanakan yang untuk kebaikan kita juga.

KISAH SIKAP KITA ADALAH PENENTU SEGALANYA


Adalah sebuah cerita tentang Josh, seseorang yang berkepribadian menyenangkan. Tidak ada orang yang tidak senang berada di dekatnya dan berbicara dengan dia. Moodnya selalu baik dan setiap kata-katanya selalu positif. Dari dialah setiap orang merasakan pentingnya melihat segala sesuatu dari sisi lain sebelum memutuskan sesuatu.

Mungkin Anda sering mendapati orang yang begitu ceria dan disenangi teman-temannya, tapi ketika tidak bersama orang yang dikenalnya atau saat berada di tempat asing, dia bisa menjadi sosok acuh. Namun tidak demikian dengan Josh, setiap sikapnya selalu positif dan ramah sehingga dia jauh dari masalah. Oleh karena itu, semua orang yang mengenal Josh sangat terkejut ketika mengetahui dia mengalami perampokan dengan luka tembak yang cukup mengerikan. Syukurlah Josh masih sempat dilarikan di rumah sakit.

Ketika operasi telah dilakukan dan Josh sudah dalam tahap pemulihan, teman-temannya menjenguk di ranjang rumah sakitnya. Beberapa orang menanyakan apa yang dirasakannya saat peluru itu bersarang di tubuh Josh dan saat-saat hidupnya bisa berakhir saat itu juga. Josh pun menceritakan dengan senang hati pengalaman buruknya ini, dengan riang.

Awalnya Josh merasa optimis, atau tepatnya meyakinkan dirinya sendiri dengan keras, bahwa dia akan tetap hidup dan luka ini bukan apa-apa. Namun ketika sampai di rumah sakit di mana para perawat dan dokter mengerubutinya, dia bisa mendengar ketegangan di suara dan wajah mereka. Ketakutan mulai menyerang rasa optimis Josh. Untung saja ketika perawat menanyakan apakah dia alergi sesuatu, Josh masih ingat untuk berdiam sejenak dan membuat pilihan, seperti yang biasa dia lakukan. Kemudian dia menjawab 'Ya', dan membiarkan para ahli medis yang menanganinya berhenti sejenak untuk mendengarkan apa alergi yang dimiliki Josh.

Secepat kilat Josh memutuskan untuk mencairkan ketegangan ini, maka dia pun menyahut "saya alergi bullet peluru itu!" dengan ekspresi menyenangkan yang masih bisa dia berikan. Meledaklah tawa di ruang medis itu, kemudian Josh melanjutkan, "saya alergi itu, maka cepatlah operasi dan ambil bullet itu karena saya masih ingin hidup". Bisakah Anda membayangkan jika Josh memilih untuk bersikap apatis atau malah sarkastis pada tim medis itu, mungkin operasinya akan mengalami kegagalan karena ketegangan saat operasi.

RENUNGAN :
Anda boleh tidak percaya, tapi begitulah adanya. Apa yang terjadi dalam hidup Anda sangat ditentukan oleh sikap Anda. Tepatnya adalah sikap yang Anda pilih.

Hidup adalah pilihan, tentu kita semua sudah tahu dengan kata-kata ini. Namun mungkin Anda tidak menyadari bahwa sampai bagian terkecil dari hidup, sebenarnya Anda bisa memilih. Bagian terkecil itu adalah bagaimana Anda bereaksi terhadap segala hal yang datang pada Anda.

Orang diam-diam ditampar, tentu saja orang itu akan marah. Seseorang menumpahkan air jus ke atas iPad Anda dengan sengaja, sudah selayaknya Anda menuntut ganti rugi pada orang itu dengan menggamparnya, mungkin. Itulah reaksi umum seseorang. Tapi tidak ada yang mengharuskan Anda demikian bukan? Di sinilah reaksi harus dihadapkan pada kesadaran bahwa hidup adalah pilihan!

Coba perhatikan setiap reaksi kecil dalam hidup Anda, tunda dulu seper sekian detik untuk memutuskan sikap apa yang harus diambil. Membuat diri sendiri dan orang lain bahagia adalah pilihan Anda sendiri, so.. jangan biarkan orang lain memilihkannya untuk Anda.

KISAH AIR SUNGAI YANG KOTOR


Suatu kala, seorang pemuda sedang berkelana bersama dengan gurunya ke suatu tempat yang cukup jauh. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu berhari-hari. Karena mereka hanya berjalan kaki, mereka harus beristirahat jika sedang lelah atau mencari tempat menginap jika hari sudah menjelang malam.

Suatu hari, di tengah perjalanan, mereka berhenti untuk beristirahat dan melepas lelah. Mereka saat itu sedang berada di sebuah hutan. Sang guru meminta muridnya untuk mencari air minum.

Pemuda itu kemudian pergi. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya ia berhasil menemukan sebuah sungai yang airnya cukup jernih. Maka ia pun menuju ke sungai tersebut untuk mengambil air minum.

Tapi sayang, ternyata ada beberapa wanita yang sedang mencuci pakaian di sungai tersebut. Tentu saja air sungai tersebut menjadi kotor dan tidak bisa di minum. Dalam hati ia berkata, "Airnya begitu kotor. Bagaimana mungkin saya memberi air ini pada guru?" Pemuda itu pun bergegas kembali menemui gurunya.

Pemuda itu berkata, "Guru, sebenarnya saya sudah menemukan sungai. Sayang, airnya tidak bisa diambil. Ada orang yang mencuci di sana sehingga airnya menjadi kotor."

Gurunya memberitahu pemuda itu, "Oh, begitu ya. Coba tunggu sebentar dan kemudian pergi ke sana lagi."

Tanpa bertanya, pemuda itu menuruti perintah gurunya yang terkenal bijaksana. Setelah beberapa saat, ia kembali ke sungai tersebut. Setelah tiba, ia memang tidak melihat wanita-wanita yang tadi karena mungkin sudah selesai mencuci. Yang ada hanyalah sekumpulan anak-anak yang sedang mandi. Melihat hal ini, ia segera kembali menemui gurunya.

Ia berkata, "Guru. Tadi saya sudah kembali ke sungai itu. Tapi, anak-anak sedang mandi. Sudah pasti airnya tidak bisa diambil untuk minum. Bagaimana baiknya? Apakah kita melanjutkan perjalanan saja dan mencari air di tempat lain?"

Gurunya tersenyum dan menjawab, "Oh, begitu ya. Coba tunggu sebentar dan kemudian pergi ke sana lagi."

Pemuda itu bingung dan bertanya-tanya mengapa gurunya terus memintanya pergi ke sungai itu padahal jelas-jelas ia tidak akan bisa mendapatkan air untuk diminum.

Namun ia turuti juga apa kata gurunya dan setelah beberapa saat, ia kembali ke sungai tersebut.

Sesampainya di sana, ternyata di sungai itu sudah tidak ada orang. Anak-anak sudah selesai mandi. Ia mendekat ke tepi sungai dan melihat air sungai sudah menjadi jernih. Dengan senyum, ia minum air tersebut dan kemudian memasukkan air ke dalam tempat minum.

Pemuda itu segera kembali dan memberitahu gurunya. Ia berkata, "Guru, ternyata setelah saya kembali ke sungai itu, airnya sudah jernih. Jadi, kita bisa mendapat air minum."

Dengan senyum gurunya bertanya, "Airnya menjadi jernih karena air sungai senantiasa mengalir. Airnya mungkin saja kotor, tapi itu hanya sementara. Setelah beberapa saat air akan kembali jernih karena air terus mengalir. Air kotor mengalir jauh dan digantikan air jernih. Semua ini terjadi dengan sendirinya."

Gurunya melanjutkan, "Begitu juga dengan dirimu. Kamu bisa belajar dari air yang mengalir ini. Setiap kali kamu terganggu oleh banyak pikiran yang rumit penuh masalah, biarkan saja mengalir. Sabar dan beri waktu, maka pikiran tersebut akan hilang dan digantikan dengan pikiran yang lebih jernih. Ini akan terjadi dengan sendirinya."

Pemuda itu berkata, "Terima kasih guru telah memberi saya sebuah pelajaran yang amat berharga."

RENUNGAN : .
Sebagai manusia kita selalu tidak terlepas dari berbagai beban dan masalah. Kadang kala masalah yang sedang kita hadapi cukup rumit sehingga membuat pikiran kita seakan-akan mau 'meledak'.

Semakin dipikir, semakin rumit masalah tersebut. Kadang-kadang kita pasti mengalami hal seperti ini. Namun, pikiran yang kusut tidak akan banyak membantu, malah akan semakin memperumit keadaan. Pikiran yang tenang dan jernih akan membuat Anda lebih bijaksana dalam mengambil keputusan maupun solusi atas penyelesaian masalah tersebut.

Ketenangan pikiran tidak sulit diraih jika kita bersedia membiarkan pikiran kita yang sedang kusut untuk pergi menjauh. Relakan pikiran tersebut lenyap. Sama seperti air yang senantiasa mengalir, pikiran kita juga senantiasa mengalir.

Mungkin saat ini, pikiran kita sedang kacau dan tidak bisa berpikir jernih. Beri sedikit waktu untuk menenangkan diri. semua akan mengalir dengan sendirinya. Pikiran yang sedang kacau akan digantikan pikiran yang jernih.

Saat pikiran sudah jernih, mungkin akan timbul ide atau bahkan solusi yang sebelumnya tidak terbayangkan. Dengan munculnya ide atau solusi, masalah kita akan bisa diselesaikan dengan bijaksana.

Ketahuilah juga bahwa masalah selalu datang dan pergi silih berganti layaknya air yang senantiasa mengalir. Hari ini masalah datang, esoknya beres. Esoknya datang masalah baru dan esoknya beres. Semuanya mengalir. Jika pikiran Anda bisa mengalir bebas seperti air, maka seberat apa pun masalah yang muncul, tidak akan berarti apa-apa. Anda sudah tahu masalah akan mengalir jauh digantikan dengan datangnya solusi.

Wednesday, 16 July 2014

KISAH ANAK PENGEMIS BUTA


Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Yup, dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya. Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.” Ada Seorang pria dewasa yang kebetulan lewat di depan anak kecil itu. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa keping uang receh, lalu memasukkannya ke dalam kaleng anak itu. Sejenak, pria kaya itu memandang dan memperhatikan tulisan yang terpampang pada papan. Seperti sedang memikirkan sesuatu, dahinya mulai bergerak-gerak.

Lalu pria itu meminta papan yang dibawa anak itu, membaliknya, dan menuliskan beberapa kata di atasnya. Sambil tersenyum, pria dewasa itu kemudian mengembalikan papan tersebut, lalu pergi meninggalkannya. Sepeninggal pria itu, uang recehan pengunjung supermarket mulai mengalir lebih deras ke dalam kaleng anak itu. Kurang dari satu jam, kaleng anak itu sudah hampir penuh. Sebuah rejeki yang luar biasa bagi anak itu.

Beberapa waktu kemudian pria dewasa itu kembali menemui si anak lalu menyapanya. Si anak berterima kasih kepada pria itu, lalu menanyakan apa yang ditulis sang pria di papan miliknya. Pria itu menjawab, “Saya menulis, ‘Hari yang sangat indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya.’ Saya hanya ingin mengutarakan betapa beruntungnya orang masih bisa melihat. Saya tidak ingin pengunjung memberikan uangnya hanya sekedar kasihan sama kamu. Saya ingin mereka memberi atas dasar terima kasih karena telah diingatkan untuk selalu bersyukur.”

Pria itu melanjutkan kata kata motivasi nya, “Selain untuk menambah penghasilanmu, saya ingin memberi pemahaman bahwa ketika hidup memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa masih ada 1000 alasan untuk tersenyum.“

KISAH ABU NAWAS MENGAWAL KOTORAN RAJA.


Demi Tata Krama Kepada Raja Konon di Zaman Raja Harun Al Rasyid dulu tidak ada yang namanya WC, yang ada cuma sungai atau kali untuk buang hajat. Suatu ketika sang raja merasa perutnya sedang sakit, dan sudah tidak bisa lagi untuk diajak kompromi. Seketika itu juga raja meminta para pengawal untuk mendampinginya ke sungai demi menuntaskan hajatnya.

Kebetulan sungai disitu mengalir ke arah selatan. Dan Sudah masyhur di kalangan masyarakat , jika sang raja sedang buag hajat di sungai, maka rakyat dilarang keras berak di sebelah utaranya raja, karena di khawatirkan kotoran tersebut akan mengalir ke arah selatan dan mengenai badan sang raja. Dan kalau ada yang melanggar, maka akan mendapatkan hukuman berat dari sang raja.

Namun kali ini, peraturan tersebut tidak di indahkan oleh sang tokoh kocak Abu Nawas, Abu Nawas dengan santainya juga ikut berak di sebelah utara agak jauh dari posisi sang raja, sehingga sang raja tidak melihatnya. Disaat asyik buang hajat, tiba – tiba saja ada suatu benda yang menyenggol pantat sang raja, tanpa berpikir panjang, benda tersebut langsung dipegang dan dilihat oleh sang raja, alangkah terkejutnya, ternyata benda tersebut adalah kotoran manusia.

kontan saja hal itu membuat sang raja naik pitam. seketika itu juga raja menyuruh para pengawalnya untuk menelusuri sungai di sebelah utara,dan menangkap orang yang berak . Benar saja, di sebelah utara agak jauh dari posisi sang raja, terlihat sosok abu nawas sedang berak dengan santainya. Saat itu juga para pengawal langsung menangkap dan membawanya ke hadapan raja untuk di hukum.

Ketika di hadapkan pada raja, Abu Nawas memprotes pada raja kenapa dia di tangkap dan akan dihukum.
Raja pun menjawab : ”Apakah kamu tidak tahu wahai Abu Nawas, perbuatanmu itu telah melecehkan privasiku, kamu telah menginjak – injak harga diriku, kamu memang tidak punya tata krama !!! bentak sang raja. “Berani – beraninya kamu berak di sebelah utaraku, sehingga kotoranmu mengenai badanku, selama ini tidak pernah seorangpun dari rakyatku berani melakukan perbuatan sepertimu” wahai Abu Nawas” Tambah sang raja dengan nada sangat kesal. “Kini kamu harus menerima hukuman dariku”

“Maaf, tunggu sebentar wahai raja ” sela Abu nawas. “Ada apa? tanya raja, “kali ini tidak ada lagi ampun bagimu Abu nawas” “Tunggu sebentar, tolong beri saya kesempatan untuk menjelaskannya. “Saya melakukan itu semua, karena saya sangat menghormati engkau wahai raja” mendegar hal itu, raja harun Al Rasyid langsung sedikit tertegun dengan apa yang disampaikan oleh abu nawas.

“Lho perbuatan seperti itu , kamu bilang malah untuk menghormati aku???” tanya raja dengan ekspresi agak sedikit keheranan. “Ya benar raja ” jawab abu nawas dengan tegasnya. Rajapun semakin keheranan dan penasaran dengan abu nawas. “Baiklah kali ini aku kasih kamu kesempatan untuk menjelaskan alasannya, jika alasanmu tidak masuk akal maka aku tidak segan – segan untuk memperberat hukumanmu.”

“Baiklah raja, begini alasannya. Raja tahu, selama ini jika raja tengah mengadakan perjalanan dengan rakyat atau bersama pengawal , tidak ada satupun dari rakyat atau pengawal raja yang berani mendahului jalannya raja, begitu juga dengan saya, ketika saya ikut rombongan raja , posisi saya ketika berjalan tidak berani mendahului raja, itu saya lakuakan karena saya menjaga tata krama dan sopan santun kepada raja”

“Ya bagus, lha terus apa hubungannya dengan perbuatanmu yang sekarang ini??” tanya raja dengan nada semakin penasaran dengan akal cerdik abu nawas. “Begini raja, saya menghormati engkau tidak setengah – setengah, melainkan saya menghormati engkau dengan sepenuh hati . Ketika saya buang hajat , saya memilih di sebelah utara raja, dan sama sekali , saya tidak berani berak berada di sebelah selatan raja. Hal ini saya lakukan karena saya kuatir, jika saya berak di sebelah selatan raja, maka nanti kotoran saya berlaku tidak sopan kepada kotoran raja, karena sudah berani berjalan mendahuli kotoran raja.

sehingga saya memilih berak di sebelah utara, agar supaya kotoran saya tidak sampai mendahului kotoran raja. Ini semua saya lakuakan tidak lain, hanya demi Tata krama saya kepada kotoran raja. Terus terang wahai baginda, kotoran saya tidak berani mendahului kotoran raja, karena hal itu merupakan perbuatan su’ul adab. Ketika raja berjalan, saya tidak berani mendahului jalan raja, begitu juga ketika kotoran raja mengalir, maka kotoran saya pun tidak berani mendahului kotoran raja.

Ini semua saya lakuakn karena Sopan santun dan tata krama saya yang sepenuh hati kepada raja.” “Malah yang seharusnya diberi hukuman bukan saya wahai raja , melainkan rakyat engkau yang tidak punya tata krama, karena mereka berani berak di sebelah selatanmu, sehingga kotoran mereka mendahului kotoranmu. “ Mendengar penjelasan Abu nawas, raja pun tersennyum. dia tidak jadi marah dan menghukum Abu nawas, tetapi oleh sang raja Abu Nawas malah diberi hadiah karena alasannya masuk akal. Sejak kejadian itu, raja pun menginstruksikan kepada rakyatnya untuk berak di sebelah utara sang raja, demi menjaga kesopanan kepada kotoran sang raja.

Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu
Syahdan, Khalifah Harun al-Rasyid marah besar kepada shahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa: “tidak mau ruku’ dan sujud dalam shalat.” … Lebih-lebih lagi, Harun al-Rasyid mendengar Abu Nawas berkata bahwa, … “khalifah yang suka fitnah!” … Menurut pembantu-pembantunya, Abu Nawas telah layak dipancung karena melanggar syariat Islam dengan menebar fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tapi untung, ada seorang pembatunya yang nampaknya biasa-biasa saja (orangnya sangat besahaja) memberi saran, … hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi) terlebih dahulu kepada Abu Nawas. Tak berapa lama, … Abu Nawas pun dipanggil dan digeret menghadap Khalifah, … Kini, ia menjadi pesakitan. “Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak ruku’ dan sujud dalam salat?” .. tanya Khalifah dengan keras.

Abu Nawas menjawab dengan tenang, “Benar Saudaraku.”
Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, “Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun al-Rasyid adalah seorang khalifah yang suka fitnah?”
Abu Nawas menjawab, … “Benar Saudaraku.”

Khalifah berteriak dengan suara yang menggelegar, “Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menerbarkan fitnah tentang khalifah!”
Abu Nawas tersenyum seraya berkata, … “Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya, kabar yang sampai padamu tidak lengkap, … kata-kataku diplintir, … dijagal, … seolah-olah aku berkata salah.”

Khalifah berkata dengan ketus, … “Apa maksudmu, jangan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya!”
Abu Nawas beranjak dari duduknya, dan menjelaskan dengan tenang, … “Saudaraku, aku memang berkata ruku’ dan sujud tidak perlu dalam shalat, tapi dalam shalat apa? … Waktu itu, aku menjelaskan tata-cara shalat jenazah yang memang tidak perlu ruku’ dan sujud.”
… “Bagaimana soal aku yang suka fitnah?”, … tanya Khalifah.

Abu Nawas menjawab dengan senyuman, … “Kala itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 surat al-Anfal, yang berbunyi “ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian) bagimu.” Sebagai khalifah dan seorang ayah, kamu sangat menyukai kekayaan dan anak-anakmu, berarti kamu suka “fitnah” (ujian) itu.” … Mendengar penjelasan Abu Nawas yang juga kritikan, Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar.

Rupa-rupanya kedekatan Abu Nawas dengan khalifah Harun al-Rasyid menyulut rasa iri dan dengki di antara pembatu-pembatu khalifah lainnya. Kedekatan hubungan ini nampak ketika Abu Nawas memanggil Khalifah Harun al-Rasyid dengan kata “ya akhi” (saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan lagi seperti hubungan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut dengan memutar-balikkan berita.

Perjalanan Abu Nawas dalam Pencarian Allah
Abu Nawas memang sudah terganggu akal fikirannya. Banyak persoalan mengenai mengenal diri masih belum terjawab. Makin banyak dia berusaha makin banyak lagi persoalan yang timbul. Sahabat handai sudah mula berkata-kata yang Abu Nawas kurang siuman.

Namun begitu Abu Nawas tidak mengindahkan mereka. Yang penting dia akan sampai ke matlamatnya yaitu mengenal diri dan Tuhannya. Kini Abu Nawas terus berusaha dan cuba menempatkan dirinya sebagai fakir iaitu orang yang berjalan mencari Tuhan.

Setiap hari dia berbaju putih dari kain yang agak kasar. Mengikat kepala dengan serban putih, berseluar putih dan bahkan segala-galanya putih. Kemana-mana dia berjalan kaki. Dia tahan tidak makan kerana dia beranggapan apabila kurang makan maka dia kan dapat mengawal nafsunya. Nafsu perlu dikawal untuk perjalanan bertemu Tuhan katanya. Setiap orang yang dijumpainya diajaknya senyum. Tingkah lakunya tidak ubah seperti cerita sufi di zaman Andalusia.

“Saya mesti bersih kerana Allah itu juga bersih. Saya juga mesti didalam keadaan berwuduk, sebab Allah adalah Maha Suci. Dan Allah juga Maha Pengasih, sebab itulah aku melihat orang dengan senyuman”.

Melihat tingkah lakunya yang demikian, maka orang-orang yang tidak mengerti sudah menilai Abu Nawas sebagai seorang sufi. Atau setidak-tidaknya orang berkata bahawa dia seorang ahli tasawwuf. Padahal dia baru bertarekat berjalan sendiri tanpa dibimbing oleh seorang Guru Mursyid atau Syeikh, apalagi tidak merujuk kepada Al Qur’an dan Hadith sebagai pegangan utama. Sudah pasti dia akan sesat jalan. Bahkan fikirannya terganggu seperti orang yang kurang siuman.

Didalam perjalanan ini, ada juga orang yang meminum air tongkat gurunya dan bahkan ada yang menginap tujuh hari tujuh malam di makam guru. Itu pun sudah dilakukan oleh Abu Nawas. Abu Nawas sudah semakin jauh dari tujuan asalnya. Namun begitu, Abu Nawas masih tetap pada pendiriannya bahawa menginap di makam para Wali sebagaimana orang lain melakukannya mungkin ada kebenarannya.

Dengan tiba-tiba dia berteriak, “Memang gila !”. Orang-orang yang berada disekelilingnya terperanjat dan melihat kepadanya. “Apanya yang gila Abu ?” Tanya mereka yang sama-sama menginap di makam wali itu. “Cuba kamu lihat ayat ini”, tunjuk Abu Nawas kepada mereka tentang sepotong ayat dari tafsif Al Qur’an yang dipinjamnya dari penjaga kunci makam tersebut.

“Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dan kami mengetahui apa-apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (Qaf, 50:16)

“Jadi kenapa ?”, tanya mereka yang hadir. “Memang kamu semua lembab fikiran ! Kan ayat ini mengatakan bahawa pada setiap umat manusia ada Allah. Pada saya ada Allah, pada kamu juga ada Allah. Bukankah Allah menjadi Maha Banyak. Padahal semua guru mengatakan bahawa Allah itu Maha Esa”.

Mereka semua tercengang dan terdiam. Didalam hati masing-masing mereka berkata betul juga kata orang gila ini. Yang lain-lainnya ada juga berpendapat tidak mungkin Allah itu banyak. Kalau Allah itu banyak, maka Allah akan bergaduh sesama sendiri. Bukankah Nabi Ibrahim pernah bertanya soalan yang sama kepada bapanya. Yang hadir semua berfikir dan ada yang akan bertanya kepada gurunya nanti.

Bagi Abu Nawas bertambah lagi satu penyakit dalam dirinya. Pertanyaan yang tersimpan dan tidak terjawab akan membuatkan seseorang semakin terganggu saraf pemikirannya. Namun begitu yang semakin parah adalah apabila orang awam sudah mula menghormati Abu Nawas sebagai seorang Syeikh. Kata mereka memang orang-orang yang hampir dengan Tuhan tidak boleh difahami dan selalu bersikap eksentrik.

Ketika Abu Nawas asyik termenung memikirkan persoalannya, tiba-tiba dari sebelah kanan datang seseorang berbisik kepada Abu Nawas. “Bermohonlah kepada Allah untuk mendapatkan kemudahan dan bimbingan. Mudah-mudahan nanti seorang Guru akan datang untuk menjawab pertanyaan yang merungsingkan kamu”. Kemudian orang itu terus menghilang.

RENUNGAN:
Ambillah pelajaran yang betul dari perjalanan Abu Nawas ini. Gilaplah cermin diri kita untuk kembali kepada Tuhan.

Salah satu cerita menarik berkenaan dengan Abu Nawas adalah saat menjelang sakaratulmautnya. Konon, sebelum mati ia minta keluarganya mengkafaninya dengan kain bekas yang lusuh. Agar kelak jika Malaikat Munkar dan Nakir datang ke kuburnya, Abu Nawas dapat menolak dan mengatakan. "Tuhan, kedua malaikat itu tidak melihat kain kafan saya yang sudah compang-camping dan lapuk ini. Itu artinya saya penghuni kubur yang sudah lama."

Tentu ini hanyalah sebuah lelucon menurut pandangan orang yang awam tetapi bukanlah sebuah lelucon bagi seorang Wali Allah, dan memang kita selama ini hanya menyelami misteri kehidupan dan perjalanan tohoh sufi yang penuh liku dan sarat hikmah ini dalam lelucon dan tawa

Friday, 30 May 2014

PEJUDO TANGAN 1 DENGAN 1 JURUS


Chen adalah seorang remaja pria yang tinggal di Hawaii. Tidak seperti orang normal, ia hanya mempunyai tangan kiri. Tangan kanan nya tidak ada sejak lahir. Karena keadaannya yang cacat itu banyak remaja pria lain yang mengejek dan sering mengolok-oloknya, bahkan ada yang suka memukul dan mendorong kepalanya.

Suatu hari, saat pulang sekolah ia diejek dan digoda beberapa remaja pria, peristiwa itu menarik perhatian seorang tua yang kebetulan lewat. Pria tua itu kemudian mengusir semua remaja yang menghina Chen, ia merasa kasihan pada Chen, kemudian ia berkata “Aku akan mengajarimu Judo supaya tidak ada yang berani mengganggumu lagi”. Chen bingung juga karena ia hanya mempunyai satu tangan, bagaimana mungkin bisa mempelajari Judo. Pria tua itu akhirnya mampu meyakinkan Chen bahwa ia mempunyai jurus judo khusus untuk orang bertangan satu. Akhirnya Chen setuju untuk belajar Judo dari orang tua tersebut dan mulai keesokan harinya sepulang sekolah, ia pergi ke rumah orang tua tersebut untuk belajar Judo.

Orang tua tersebut mengajari Chen sebuah jurus yang ternyata sangat sulit dikuasai, sampai beberapa bulan pun Chen masih belum menguasainya dengan baik. Sampai akhirnya memasuki bulan ke enam barulah Chen mampu menguasainya dengan lumayan baik, Chen sangat gembira dan ia meminta kepada orang tua itu untuk mengajarinya jurus lainnya. Orang tua tersebut menggelengkan kepalanya dan berkata “Kamu sudah bisa menguasai jurus itu? Bagus, kalau begitu lakukan jurus tersebut dengan LEBIH CEPAT dan LEBIH BAIK“.

Chen terus belajar dengan tekun dan akhirnya ia bisa menguasai jurus itu dengan semakin baik, tapi ia bosan juga, pikirnya kok jurus itu-itu aja sih, kapan nih belajar jurus lainnya? Akhirnya ia berkata “Guru, saya sudah menguasai jurus itu dengan baik, ajarkan dong jurus yang lain”. Orang tua yang merupakan gurunya tersebut berkata “Kamu merasa sudah menguasai dengan baik? Baiklah kalau begitu 3 bulan lagi kamu ikut pertandingan”. Chen merasa ragu, bagaimana mungkin ia yang bertangan satu harus bertanding melawan musuh yang bertangan dua dalam suatu pertandingan? Tapi ia berpikir tidak ada salahnya dicoba, dalam pemikiran Chen dalam 3 bulan ini pasti gurunya mengajarkan jurus-jurus baru untuk menghadapi pertandingan.

Seminggu, dua minggu, sebulan berlatih, Chen makin heran, gurunya tidak mengajarkan jurus baru sama sekali, ia hanya disuruh belajar menguasai jurus tunggal itu dengan gerakan yang semakin cepat dan semakin baik. Akhirnya Chen tidak sabar dan protes “Guru, mengapa guru tidak mengajarkan jurus baru apapun kepada ku, masa aku harus bertanding dengan SATU TANGAN dan SATU JURUS saja”. Gurunya tetap tidak mengajarkan jurus baru apapun sampai 3 bulan waktu berlalu dan tiba saatnya bertanding.

Chen mengawali pertandingan penyisihan pertama dengan gugup, tapi karena latihannya sudah sangat matang, akhirnya ia bisa menang juga. Pertandingan kedua dan ketiga ia menangkan juga dengan jurus yang sama. Sampai tiba saatnya ia ke semi final. Chen sangat gugup, katanya “Guru, cepat ajarkan aku jurus yang baru. Aku sudah menang 3 kali menggunakan 1 jurus yang sama, musuh pasti sudah bisa membaca jurusku, musuhku kali ini sang juara bertahan, ia sangat hebat, cepat guru, ajarkan aku”. Sang guru dengan tenang berkata “Yakin saja, Kamu pasti menang”.

Chen semakin gugup, sampai akhirnya tiba saat pertandingan. Sang lawan memang sangat hebat, berkali-kali ia dapat menghindari kuncian jurus Chen, tapi akhirnya sampai suatu saat ia sedikit lengah dan Chen dapat memanfaatkan kesempatan yang hanya sepersekian detik itu untuk memasukkan jurus satu-satunya yang ia miliki. Chen menang lagi!

Saat finalpun tiba. Chen mempunyai kepercayaan diri yang sudah membubung tinggi, lawannya malah sudah keder duluan, akhirnya ia bisa mengalahkan lawannya dengan mudah dan Chen menjadi juara!! Ya, hanya dengan SATU TANGAN dan SATU JURUS, ia bisa mengalahkan lawan-lawannya yang punya tangan normal dan beragam jurus.

Chen kemudian pulang ke rumah dan berpesta dengan keluarga dan teman-temannya. Kemudian ia menjumpai gurunya dan pergi berjalan-jalan dengan gurunya itu. Sambil berjalan mereka membahas kemenangan Chen. Chen merasa penasaran dan bertanya pada gurunya “Guru, bagaimana aku bisa menang melawan mereka yang normal dengan satu jurus saja? Rasanya sungguh tidak masuk akal”. Gurunya menjawab “Karena engkau mempunyai tekad baja, kemauan yang kuat, dan satu lagi, jurus yang kuajarkan itu adalah jurus yang sangat sulit diantisipasi dan sangat sulit menguasainya, satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari kuncian itu adalah dengan MENGUNCI BALIK TANGAN KANAN MU“

Renungan:
Sesuatu yang dipikir banyak orang sebagai kelemahan, dapat dimanfaatkan menjadi sebuah keunggulan yang nyata. Dalam dunia nyata misalnya, tidak diperlukan banyak jurus/pekerjaan untuk menang/sukses. Kuasailah satu bidang sehingga anda benar-benar menjadi sangat ahli di bidang tersebut. Satu bidang yang anda kuasai dengan sangat baik sudah cukup untuk membuat anda hidup layak (menang). Kalau anda tidak bisa menang di suatu bidang yang umum maka buatlah KATEGORI / JURUS sendiri dimana andalah yang menjadi NOMOR SATU di kategori tersebut.

Saturday, 12 April 2014

WISDOM WORD WHEN JOKER SAID RIGHT


Jika Anda mengenal tokoh Batman, harusnya Anda pun tahu tentang Joker, salah seorang musuh bebuyutan utamanya. Namun siapa sangka, meskipun tindakannya jahat dan tidak patut ditiru, namun tokoh psikopat ini adakalanya bisa berbicara benar.

Jika Anda pernah nonton film Batman the Dark Knight, ada beberapa kalimat inspirasi dari si psikopat Joker yang bisa kita ambil pelajaran darinya.

Joker says : "I believe whatever doesnt kill you, simply makes you stranger."

Filosofi : Tantangan adalah peluang menjadikan diri lebih baik.

Contoh : Pelajari hal-hal baru yang menunjang keahlian utama. desainer grafis? Mulailah menulis jurnal! Ini bukan berarti mengalihkan fokus dari keahlian utama, tapi di tengah dunia kompetitif (di mana tiap tahun muncul ribuan fresh grads), harus siap dengan memperkaya diri. Berat memang. Tapi setelah menguasainya, akan menjadi lebih kuat!!

Joker says : "If youre good at something, never do it for free."

Filosofi : Hargai diri sesuai keahlian dan pengalaman.

Contoh : Seorang karikaturis, dalam 5 menit selesai menggambar dengan sempurna wajah seorang turis, lalu meminta Rp 500 ribu. Turis itu kaget, Cuma lima menit, kok semahal itu? Jawab si karikaturis, Saat ini saya sanggup menyelesaikan sebuah karikatur dalam waktu singkat, lima menit saja. Tapi untuk bisa melakukan itu, saya butuh berlatih selama lima tahun.

Joker says : "In their last moments, people show you who they really are."

Filosofi : Di saat kepepet, manusia menunjukkan kekuatan sesungguhnya biasanya melebihi apa yang selama ini dia yakini.

Contoh : Tetapkan deadline bayangan. Bila harus menyelesaikan satu situs dalam 3 minggu, upayakan selesai dalam 2 minggu. Mungkin berat dan menekan, tapi toh tersisa satu minggu untuk rileks. Klien senang, pun tenang.Ya kan??

Joker says : "Nobody panics when things go according to plan. Even if the plan is horrifying! Introduce a little anarchy. Upset the established order, and everything becomes chaos."

Filosofi : Rutinitas bikin bosan, yang aneh-aneh malah menarik.

Contoh : Dare to be different. Smashing magazine sering menunjukkan betapa karya-karya desain grafis yang mendobrak aturan bisa begitu menakjubkan. Dalam penulisan pun, topik dan angle yang nyeleneh selalu sanggup menarik perhatian pembaca. Cobain deh!!

Joker says : "I just do things."

Filosofi : *mengutip tagline sebuah merk sepatu terkenal* Just do it!

Contoh : Ingin bertualang ke Jerman? Pergi! Ingin menciptakan program yang bebas bugs? Ciptakan! Ingin keluar dari kantor dan beralih ke wirausaha? Oke. Nyalakan komputer, mulailah menulis surat pengunduran diri. Daripada melamun melulu, JUST DO IT FOR GODS SAKE

Joker says : "Why so serious???" - the ultimate Joker philosophy -

Filosofi : Hidup sudah susah, nggak perlu dibikin tambah susah..

Contoh : Bila kelewat banyak proyek untuk ditangani, outsource saja. Saat semangat mengendur, bawa laptop ke kafe yang cozy. Apa?? Didepak pacar? Cari baru dong! Kecuali (sepertinya sih) terbelit utang, tiap masalah ada solusinya. Sekali lagi, why so serious?

Joker says : "You complete me!!"
Filosofi : Hidup emang butuh pendamping, buat melengkapi hidup...

Contoh : coba deh, kalo kita kehilangan orang yang kita sayangi?atau ditinggal untuk sekian lama, pasti ada sesuatu yang hilang kan??

Sunday, 8 December 2013

KISAH LIMA PENGEMBARA


Alkisah, di sebuah negeri antah berantah, hiduplah lima orang pengembara. Kelima orang ini sudah banyak mengunjungi berbagai kota di negeri tersebut. Meski begitu, bagaimana mereka melakukan perjalanan mereka tidaklah sama. Setiap pengembara memiliki cara berjalan mereka sendiri, yang membuat mereka memiliki kekhasan tersendiri.

Pengembara yang pertama selalu berjalan sambil melihat lke atas. Karena ia mengembara sambil melihat langit, ia sering salah mengambil jalan, membuat dirinya tersesat. Terkadang, ia juga memperoleh luka yang tidak perlu akibat menabrak hal yang sepele.

Pengembara yang kedua, sebaliknya, selalu berjalan sambil melihat ke bawah. Karena selalu melihat tanah itulah ia sering melewatkan berbagai toko. Padahal, toko itu dapat ia gunakan untuk menyuplai bekal perjalanannya dan juga memperbaiki berbagai perlengkapannya yang semakin lama semakin aus.

Pengembara yang ketiga selalu berjalan sambil melihat ke belakang. Karena selalu melihat ke belakang itulah ia sering tidak sadar bahwa ia sebenarnya memiliki kemampuan untuk memilih ketika ada percabangan jalan, dan menganggap bahwa jalan yang ia tempuh adalah jalan yang tidak bercabang.

Pengembara yang keempat selalu berjalan sambil melihat ke kanan dan kiri. Karena selalu melihat ke kanan dan kiri itulah ia menjadi pengembara yang paling lambat dibanding yang lain. Itu karena dia selalu menghampiri setiap toko yang kebetulan dia lihat.

Pengembara yang kelima selalu berjalan sambil melihat ke depan. Karena selalu melihat ke depan itulah ia selalu yakin dengan pilihan jalurnya dan enggan mencoba jalur yang lain. Padahal, jalur yang ia tempuh itu sering dibilang berbahaya oleh pengembara lain.

Kelima pengembara ini melambangkan beberapa sifat buruk yang seharusnya dihindari manusia.

Pengembara yang selalu melihat ke atas melambangkan sikap rendah diri dan tidak pernah puas. Mereka selalu membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih baik dari mereka, dan saat mereka mendapati dirinya ternyata inferior, mereka mulai merasakan sakit yang tidak perlu, yang disebabkan oleh rasa iri hati. Mereka juga merasa bahwa apa yang mereka perbuat tidak akan cukup, dan oleh sebab itu, mereka selalu berusaha untuk memuaskan keinginan itu, menjadikan diri mereka orang yang tamak. Sifat-sifat ini menjadikan mereka sering mengambil tindakan yang salah dalam hidup mereka.

Pengembara yang selalu melihat ke bawah melambangkan sikap sombong. Mereka selalu merasa bahwa diri mereka lebih baik dibandingkan orang lain, dan oleh sebab itu, selalu merendahkan orang lain. Selain itu, karena merasa bahwa diri mereka sudah hebat, mereka sering menolak kesempatan untuk belajar karena gengsi, padahal kesempatan itu sangat mungkin sebenarnya begruna bagi kehidupan mereka.

Pengembara yang selalu melihat ke belakang melambangkan sikap menyesal. Mereka selalu merasa bahwa pilihan yang mereka buat salah, berkata “Seandainya saja…”, dan berpikir bahwa hidup mereka tidak seharusnya seperti ini. Bahkan, mereka sebegitu larutnya dalam penyesalan, sampai-sampai mereka merasa bahwa hidup mereka tak berguna lagi. Sebagai akibatnya, mereka gagal melihat alternatif yang ditawarkan oleh kehidupan.

Pengembara yang selalu melihat ke kanan dan kiri melambangkan sikap menunda pekerjaan. Mereka tidak mampu menahan keinginan mereka untuk melakukan berbagai kegiatan sampingan, membuat kegiatan utama mereka justru terbengkalai. Akibatnya, banyak waktu yang terbuang, dan mereka menjadi orang yang tertinggal dibandingkan dengan orang lain.

Pengembara yang selalu melihat ke depan melambangkan sikap keras kepala. Mereka selalu merasa bahwa diri mereka paling benar, menjadikan mereka seorang yang berpikiran sempit dan tidak toleran. Dalam benak mereka, yang paling penting adalah opini mereka, sementara opini orang lain adalah salah, bahkan meskipun opini orang lain itu mengandung kebenaran.

RENUNGAN:
Karena itu, jadilah pengembara yang dapat melihat ke mana pun, tahu kapan harus melihat, itu dan seberapa lama atau sering kita melakukannya

Wednesday, 4 December 2013

KISAH PEMBUAT PERAHU KAYU (KISAH PAPAN DAN RAYAP)


Dikisahkan dua orang laki-laki bekerja keras membuat sebuah perahu. Ketika sedang sibuk bekerja mereka berdua menemukan rayap disebuah papan. Salah seorang dari mereka kemudian ingin membuang papan itu tapi temannya melarang. Dia berkata, ”kenapa papan ini dibuang? Kan sayang. Lagipula tidak ada masalah. Cuma kena rayap sedikit saja.”
Karena tidak ingin mengecewakan temannya, papan yang ada rayapnya pun digunakan untuk membuat perahu. Selang beberapa hari, perahu pun selesai dan sudah bisa digunakan untuk melayari lautan.

Tapi beberapa tahun kemudian, rayap-rayap itu ternyata bertelur dan menetas. Rayap-rayap itu kemudian menggerogoti kayu kapal. Bahkan rayap-rayap itu menyebar kemana-mana hingga memakan kayu yang ada di lambung kapal.

Kapal terus digunakan dan tak seorang pun sadar hingga akhirnya, kayu-kayu perahu itu pun mulai keropos. Dan, ketika dihantam oleh ombak besar, air berhasil menembus masuk dari celah-celah dan lubang-lubang kayu.

Karena hujan juga sering turun dengan deras, para awak perahu tidak mampu lagi menguras air yang masuk ke dalam perahu sehingga akhirnya perahu itu karam. Di dalamnya terdapat barang-barang berharga dan nyawa manusia.

RENUNGAN :
Kalau saja kita sadar bahwa malapetaka besar ini sebenarnya berasal dari hal yang remeh dan tidak berharga seperti papan yang sudah kena rayap. Kalau saja ketika membuat perahu dahulu papan itu dibuang, tentu saja malapetaka ini bisa dicegah.

Dan, begitulah kalau pada kenyataannya kita sering tidak sadar kalau perbuatan-perbuatan kesalahan kecil dan remeh yang kita lakukan kadang-kadang justru malah menimbulkan malapetaka besar.

KISAH DARI SEBUAH KEBIASAAN


Disuatu sore Ayah mengajak anak remajanya yang agak nakal dan mempunyai kebiasaan-kebiasaan buruk untuk berjalan-jalan dihutan sekitar perkebunan mereka. "Engkau melihat pohon itu? Cobalah engkau mencabutnya," kata sang Ayah sambil menunujuk pada salah satu pohon kecil dipinggir hutan.

Dengan segera anak remaja itu berlari dengan satu tangan saja mencabut pohon kecil itu. Mereka terus berjalan dan kali ini sang ayah menunjuk sebuah sebuah pohon yang sudah agak besar . "Sekarang coba cabut pohon itu. Dengan segera pula si anak remaja mencabut pohon itu, tetapi kali ini tidak dengan satu tangan. Ia harus mencabutnya dengan kedua tangannya.

Setelah berjalan beberapa langkah lagi sang Ayah menunjuk sebuah pohon cemara yang cukup besar. "Sekarang Ayah mau engkau mencabut pohon itu." Dengan kaget anak remaja itu menjawab, "Yang benar saja Ayah, itu kan besar dengan seluruh kekuatanku pun aku tak dapat mencabutnya. Pohon itu hanya dapat ditebang dengan Buldozer.”

"Benar katamu," jawab sang Ayah. Mereka kemudian duduk berdua dipinggir Hutan. "Sekarang dengar," kata sang Ayah memulai pelajarannya. Sesuatu yang belum terlalu lama dibiarkan, masih bisa dihilangkan dengan mudah. Seperti ketika engkau mencabut pohon kecil tadi dengan satu tanganmu. Tetapi kebiasaan yang sudah agak lama dibiarkan, masih bisa dihilangkan tetapi dengan usaha dan kerja keras, seperti ketika engkau mencabut pohon kedua dengan kedua tanganmu.

Sedangkan kebiasaan yang sudah mendarah daging karena sudah dibiasakan dan dipelihara, akan sangat sulit menghilangkannya kecuali dengan tekad kita yang bulat.

RENUNGAN :
Maka belajarlah segera membuang hal-hal yang tidak berkenan bagi kita dan jangan membiasakan dirimu melakukan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik.

Tuesday, 19 November 2013

KISAH TUAN OENG DENGAN SEORANG GADIS KECIL


Dari dalam toko mainannya, seorang pria tua yang biasa dipanggil Tuan Oeng oleh para pelanggannya menatapLAH seorang gadis berseragam putih-merah yang sedang terpaku di depan kaca etalase toko. Sudah dua minggu ini di waktu yang sama, yaitu pukul 13.15, gadis itu selalu berdiri di depan etalase toko.

”Bisa aku bantu?” tegur Tuan Oeng tersenyum ramah.GADIS itu menoleh ke arah Tuan Oeng kemudian mengetuk kaca etalase.”Berapa harga Lily?” tanya gadis itu kemudian.Tuan Oeng menoleh ke arah etalase dan menemukan sebuah boneka bergaun ungu yang ditunjuk oleh gadis berkepang dua itu.
”Lima puluh ribu rupiah,” jawabnya singkat.

”Mahal, ya...,” ujar gadis itu terdengar seperti menggumam. Ia kemudian melangkah meninggalkan toko dan pemiliknya.

Keesokannya, Tuan Oeng kembali menemukan gadis kecil itu terpana di depan etalase. Matanya bergeming dari Lily yang telah dipajang sejak dua minggu lalu. Kali ini Tuan Oeng tak menegur. Ia membiarkan saja gadis itu menatap Lily sampai puas.

SAMPAI di suatu Minggu, Tuan Oeng melihat gadis itu datang bersama seorang anak laki-laki yang lebih kecil. Keduanya mengendarai sepeda dan memarkir sepeda tepat di depan etalase toko. Terlihat raut gembira di wajah gadis itu.

”Selamat datang. Ada yang bisa dibantu, Nak?” sambut Tuan Oeng.
Kedua bocah itu adalah pembeli pertama di hari itu. ”Saya ingin membeli Lily,” ujar gadis itu mantap.
Tuan Oeng tersenyum. ”Apakah kau meminta orangtuamu untuk membelikannya?”
tanyanya.

Gadis itu menggeleng. ”Tidak, Pak. Saya memecahkan celengan yang sudah saya isi sejak setahun.”
Tuan Oeng terpana memandang gadis kecil yang mulai berceloteh bangga itu.

”Walaupun hanya memiliki empat puluh ribu dari uang celengan saya, Ayah memberi uang dua puluh ribu untuk menutupi kekurangannya.”

Tuan Oeng mengangguk mengerti. ”Berarti kau sudah tak punya tabungan lagi, ya?”

Gadis itu mengangguk. ”Kali ini iya, tetapi mulai besok saya akan makin rajin menyisihkan uang jajan. Itu sebabnya Ayah melebihkan sepuluh ribu agar saya dapat membeli celengan baru.”

Tuang Oeng mengacungkan kedua jempolnya tanda bangga. ”Hebat!” ujarnya.SESAAT kemudian transaksi berlangsung. Gadis itu menulis nama dan alamatnya. Kemudian ia membayar Lily dengan satu lembar uang lima puluh ribu.

”Bisakah Bapak membungkus Lily dengan rapi?” pinta gadis itu.
”Tentu. Untuk gadis kecil yang rajin menabung, Bapak akan bungkus dengan kotak cantik berwarna ungu.”

Ketika sedang membungkus Lily, Tuan Oeng memerhatikan kedua bocah tadi berada di depan rak mainan tentara. ”Aku akan menabung seperti Kakak agar bisa membeli paket mainan tentara ini,” ujar bocah lelaki itu kepada kakak perempuannya.

”Kamu suka, ya?” tanya gadis kecil itu kepada adiknya.
”Iya. Hampir semua teman-temanku memilikinya. Namun, mana mungkin Ayah membelikannya untukku,” nada bocah lelaki itu terdengar kecewa.

”Ayah, kan, pernah bilang kepada, kita jika kita menginginkan sesuatu, kita harus berusaha sendiri. Namun, jika kita membutuhkan sesuatu, Ayah dan Ibu akan membelikannya.”

BOCAH lelaki itu mengangguk. ”Aku akan berusaha keras seperti Kakak! Aku akan menabung.”
”Sebaiknya kau menabung dengan cepat,” timpal satu anak buah Tuan Oeng, masuk ke dalam percakapan.

”Paket mainan tentara itu edisi terbatas dan tidak diproduksi lagi. Di toko ini bahkan hanya tinggal dua paket.”

Raut wajah bocah lelaki itu berubah kecewa. ”Benarkah? Ya....”
Gadis kecil itu menepuk pundak adiknya. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

BEBERAPA saat kemudian kedua bocah itu sudah melangkah ke luar toko. Namun, beberapa menit kemudian, gadis itu datang kembali ke toko sendirian. Ia membawa sebuah kotak berwarna ungu.

”Maaf, Pak. Bolehkan saya menukar Lily dengan satu paket tentara edisi terbatas itu?” ujar gadis itu.

Tuan Oeng terkejut dan terbengong sejenak. ”Kenapa kau mau menukarnya?”

Gadis itu menggeleng. ”Saya tidak tahu kenapa saya sedih setelah mendapatkannya. Mungkin karena saya takut adik saya tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau. Sepertinya ia masih terlalu kecil untuk menabung cepat.”

Tuan Oeng tersenyum. Ia merasa gadis di depannya sudah dewasa. Padahal, gadis kecil itu dan adiknya sama-sama masih kecil. Transaksi penukaran berlangsung. Harga miniatur tentara itu lebih murah sepuluh ribu rupiah daripada harga Lily.

KETIKA gadis itu keluar dari toko, Tuang Oeng sibuk menulis sesuatu di atas kartu. Selesai menulis, ia memanggil salah satu anak buahnya dan berkata,”Kirimkan kotak ungu ini ke alamat gadis kecil tadi. Ini alamat dan nomor
teleponnya.”

Anak buah Tuan Oeng sekilas membaca isi kartu ucapan yang ditulis Tuan Oeng. Tulisannya berbunyi:

”Untuk seorang kakak yang murah hati dan rajin menabung. Tertanda Tuan Oeng,
dari toko Hati.”

RENUNGAN :
Jika kita menginginkan sesuatu, kita harus berusaha sendiri semua itu berasal dari diri kita sendiri..seperti kita mencari pekerjaan atau mencari jodoh bila kita tidak berusaha mana mungkin bisa mendapatkannya dengan gratis..

Friday, 20 September 2013

KISAH TENTANG MENERIMA APA ADANYA


Seorang pelajar yang baru saja pulang dari medan perang menelepon orangtuanya di rumah. Orangtuanya begitu senang mendengar bahwa anaknya telah kembali. Mereka segera menyuruh pemuda itu untuk pulang ke rumah. Pemuda itupun sudah tidak sabar lagi rasanya untuk berkumpul kembali dengan keluarganya setelah berbulan bulan lamanya ia harus berada di negara lain untuk berperang.

Pemuda itu menanyakan pada orangtuanya apakah ia boleh membawa sahabatnya untuk tinggal bersama sama mereka. Orangtuanya setuju saja lagipula mereka masih punya satu kamar extra di rumah, satu orang tentunya tidak akan begitu merepotkan. ” tetapi sahabatku itu cacat Ia hanya memiliki satu lengan dan satu kaki saja “. Demikian si pemuda itu memberi penjelasan agar orangtuanya tidak terkejut nantinya.

Mendengar hal itu orangtuanya mengurungkan niatnya. Mereka mencoba memberi penjelasan pada putranya, “Tidakkah sebaiknya kita membawa temanmu itu ke panti perawatan korban perang? Kita akan kerepotan mengurus segala keperluannya nantinya. Sudahlah, sebaiknya kamu segera pulang saja. Kami sudah sangat merindukanmu. Besok pagi kami akan segera menjemputmu. Dimana kamu tinggal sekarang?”. Mendengar jawaban orangtuanya, pemuda itu memberikan hotelnya dan menutup telepon dengan kecewa.

Keesokan harinya orangtua pemuda itu menjemputnya di Hotel dan menemukan kabar bahwa pemuda itu telah bunuh diri dengan cara menjatuhkan dirinya lewat jendela. Setelah melihat mayat putranya,betapa hancur hati mereka mengetahui bahwa ternyata putranya itu hanya memiliki satu Lengan dan satu kaki.

RENUNGAN:
Seringkali kita lupa bahwa mengasihi adalah menerima diri orang lain SEUTUHNYA tanpa syarat.
Mengasihi suami bukanlah hanya pada saat dirinya begitu gagah dan mapan dengan pekerjaan yang menjanjikan.
Mengasihi isteri adalah menerima dirinya apa adanya dengan kondisi fisik seperti apapun.
Mengasihi anak adalah bisa memuji dan memberinya semangat sekalipun kemampuannya jauh di bawah rata rata anak seumurannya.
Mengasihi Orangtua adalah bangga memiliki mereka sekalipun mereka bukan orangtua yang sempurna.

MENGASIHI ADALAH MENERIMA ORANG LAIN APA ADANYA.

Friday, 30 August 2013

KISAH KELUHAN ANAK KEPADA AYAHNYA


Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Oh Ayah, ayah” kata sang anak…

“Ada apa?” tanya sang ayah…..

“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…

aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capel, sangat capek …

aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…

aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”

” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”

” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”

” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”

” Nah, akhirnya kau mengerti”

” Mengerti apa? aku tidak mengerti”

” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”

” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”

” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda beragama yang kuat, yang tetap tabah dan sabar maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”

” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah ,aku akan tegar saat yang lain terlempar ”

Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

RENUNGAN :
Dear all…. terkadang kita terburu-buru ingin mencapai sesuatu dalam hidup ini, kita lupa akan adanya proses yang harus dilalui terlebih dahulu apa lagi dalam hal pencarian materi. kita hanya menginginkan yg instan tanpa melalui proses bekerja dan berusaha.

Hidup ini ibaratnya pendakian gunung, berjalan diatas batu yang terjal dan badai serta kabut untuk sampai ke puncak. setelah sampai kepuncak akan menikmati keindahan alam yang jarang kita temui…

KISAH KELUHAN SUAMI TERHADAP ISTRI YANG TIDAK BEKERJA


Seorang suami mengeluh karena merasa capek... capek dan capek.... dan ingin agar isterinya membantu mencari nafkah sebab selama ini menurutnya merasa isterinya "Tidak Bekerja"

Berikut tanya jawab antara seorang suami (J) dan Psikolog (T)..

T : Apakah pekerjaan Pak Bandi?
J : Saya bekerja sebagai akuntan di sebuah Bank.

T : Isteri Bapak ?
J : Dia tidak bekerja. Hanya ibu rumah tangga saja.

T : Tiap-tiap pagi siapa yang menyediakan sarapan?
J : Isteri saya yang menyediakan sebab dia tidak bekerja.

T : Jam berapa isteri bangun untuk sediakan sarapan ??
J : Jam 4 pagi dia bangun karena sebelum membuat sarapan dia beres-beres rumah dulu..

T : Anak-anak Pak Bandi ke sekolah bagaimana??
J : Isteri saya yang mengantar sebab dia tidak bekerja.

T : Selepas mengantar anak-anak, apa yang selanjutnya isteri Bapak lakukan ?
J : Pergi ke pasar, kemudian kembali ke rumah untuk memasak dan membereskan jemuran serta menyetrika. Lepas siang menjemput anak pulang sekolah dan membantu anak belajar pada sore hari.

T : Petang hari selepas Pak Bandi pulang ke rumah, apa yang Bapak lakukan?
J : Beristirahat, karena seharian saya capek bekerja.

T : Lalu apa yang istri bapak lakukan ?
J : Sediakan makanan, melayani anak, menyiapkan makan untuk saya dan membereskan sisa-sisa makanan dan bersih-bersih lalu lanjut menidurkan anak-anak.

RENUNGAN :Marilah kita cermati bersama, berdasarkan cerita di atas, anda rasa siapa yang lebih banyak bekerja???

Rutinitas seharian istri anda dimulai dari sebelum pagi sehingga lewat malam, itu juga dikatakan TIDAK BEKERJA??!!

Ibu Rumah Tangga memang bukan pekerjaan, tidak memerlukan segulung ijazah, sederet pangkat atau segunung jabatan yang besar, tetapi peranan IBU RUMAH TANGGA sangatlah penting!

Hargailah seorang isteri. Karena bagaimanapun pengorbanannya tidak terkira. Ini merupakan renungan untuk kita semua untuk senantiasa saling memahami dan menghargai peran masing-masing. Karena adanya rasa "SALING MENGHARGAI " maka semua akan bahagia.