Wednesday, 8 May 2013

HOUSE OF SOUL


INI satu kisah tentang sembilan bersaudara yang telah berhasil dalam meraih karir dan cita-cita yang diimpikan. Dari kesembilan bersaudara tersebut, hanya seseorang yang memiliki rumah sangat sederhana. Delapan bersaudara yang lain, rumahnya tergolong mewah dan lapang. Bahkan berlantai dua. Lantas, ada apa dengan rumah sederhana itu?

Rumah itu tak luas. Tergolong rumah mungil dengan nama generik: tipe 36. Namun kok anehnya, orang yang tinggal di sana selalu berwajah ceria, senang, dan hampir tak ada cekcok.

Tidak hanya itu. Di waktu-waktu tertentu, saat liburan sekolah tiba,rumah sederhana itu tiba-tiba penuh sesak dengan anak-anak. Usut punya usut, mereka adalah keponakan si empunya rumah, Pak Joko, itulah nama pemilik rumah sederhana itu. Mereka datang ke sana, dari berbagai tempat. Dalam setiap acara dan kegiatan, para saudara dekat dan jauh mereka, lebih senang memilih dan menginap di rumah tersebut. Bukan semata karena mereka tak punya uang untuk sekadar menginap di rumah yang sempit itu. Dengar-dengar, ayah mereka hidup berkecukupan.

Pernah beberapa kali, ketika kakak dan adiknya Pak Joko mengadakan hajatan dan menyediakan lantai duanya yang lebih lapang dengan beberapa kamar untuk menginap, mereka malah memilih untuk menginap di rumah Pak Joko. Mereka pun diantar ke rumah itu dengan mobil yang masih mengilap dan baru modelnya.

Tapi memang begitulah faktanya. Mereka justeru lebih senang jika bertandang dan bertamu ke rumah Pak Joko walau rumahnya tergolong sederhana. Itulah yang dirasakan saudara-saudara Pak Joko. Ya, tapi kenapa mereka mau berdesakan di sana?

Pakde Joko, begitulah mereka memanggilnya. Pria berambut keriting dengan kacamata yang selalu nangkring di hidungnya itu punya cara asik untuk menjadikan rumahnya selalu membuat betah pengunjungnya.

Pak Joko tak pernah menyuguhkan kemewahan dan fasilitas layaknya hotel berbintang lima. Keluarga Pak Joko hidup secara sederhana. Jika tamu-tamu datang, Pak Joko beserta isterinya hanya menyuguhkan minuman teh dan kopi panas ditambah makanan khas daerah.

Tetapi yang paling penting yang diberikan Pak Joko kepada tamu-tamunya ialah sikapnya yang justru membentuk rumahnya yang sederhana menjadi rumah jiwa. Rumah jiwa, rumah yang diisi oleh keramahan, ketulusan, kesederhanaan, kenyamanan, dan keikhlasan yang ditampilkan oleh Pak Joko beserta keluarganya.

Keramahan. Itulah yang dilakukan Pak Joko setiap kali menerima saudara dan tamunya. Pak Joko selalu menyambut dengan penuh kehangatan. Dengan tawa dan senyum yang tak pernah lepas setiap kali ia berjumpa dengan orang lain. Pak Joko sendiri memang pandai bergaul kepada setiap orang. Berbicara dengan penuh canda dan persahabatan kepada setiap orang tanpa kecuali.

Ketulusan. Pak Joko tak pernah menolak bahkan mengeluh sedikitpun kepada siapa saja yang bertandang ke rumahnya. Ia tak pernah membedakan status seseorang yang hadir di rumahnya. Semua ia layani dengan penuh ketulusan.

Kesederhanaan. Itu jugalah yang ada pada keseharian Pak Joko.
Hidupnya betul-betul sederhana, jauh dari kemewahan. Ia melayani saudara dan tamunya apa adanya. Pak Joko tak pernah membuat sesuatu menjadi ada kalau memang tidak ada, atau istilahnya, mengada-ada yang tidak ada. Begitu juga sebaliknya, Pak Joko tak pernah menyembunyikan yang ada menjadi tidak ada. Malah, saudaranya yang selalu membawakan oleh-oleh dan panganan ringan untuk disantap bersama.

Kenyamanan. Setiap orang yang berkunjung ke rumahnya selalu merasa nyaman. Kalau orang seberang bilang, feel like at home. Merasakan seperti rumah sendiri.

Dan ini yang paling penting, keikhlasan. Pak Joko selalu menerima siapa saja yang hadir di rumahnya dengan penuh keikhlasan. Tanpa pamrih sekalipun.

Dengan kata lain, rumah Pak Joko merupakan pantulan jiwa Pak Joko sendiri. Memang begitulah sejatinya sebuah konsep rumah. Bukan dalam pengertian fisik rumah itu sendiri. Rumah bukanlah sebuah tempat tinggal biasa, tetapi lebih dari itu.

RENUNGAN:
Rumah yang baik adalah rumah yang diisi oleh jiwa-jiwa yang baik.Jiwa-jiwa yang penuh dengan ketenangan. Penuh ketulusan, keikhlasan, dan memiliki kedamaian

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda membangun rumah jiwa disana?

SATU RENUNGAN TENTANG BOSAN


Pada awalnya manusialah yang menciptakan kebiasaan. Namun lama kelamaan, kebiasaanlah yang menentukan tingkah laku manusia.

Ada seorang yang hidupnya amat miskin. Namun walaupun ia miskin ia tetap rajin membaca.

Suatu hari secara tak sengaja ia membaca sebuah buku kuno. Buku itu mengatakan bahwa di sebuah pantai tertentu ada sebuah batu yang hidup, yang bisa mengubah benda apa saja menjadi emas.

Setelah mempelajari isi buku itu dan memahami seluk-beluk batu tersebut, iapun berangkat menuju pantai yang disebutkan dalam buku kuno itu.

Dikatakan dalam buku itu bahwa batu ajaib itu agak hangat bila dipegang, seperti halnya bila kita menyentuh makhluk hidup lainnya.

Setiap hari pemuda itu memungut batu, merasakan suhu batu tersebut lalu membuangnya ke laut dalam setelah tahu kalau batu dalam genggamannya itu dingin-dingin saja.

Satu batu, dua batu, tiga batu dipungutnya dan dilemparkannya kembali ke dalam laut.

Satu hari, dua hari, satu minggu, setahun ia berada di pantai itu.

Kini menggenggam dan membuang batu telah menjadi kebiasaannya.

Suatu hari secara tak sadar, batu yang dicari itu tergenggam dalam tangannya. Namun karena ia telah terbiasa membuang batu ke laut, maka batu ajaib itupun tak luput terbang ke laut dalam.

Lelaki miskin itu melanjutkan ‘permainannya’ memungut dan membuang batu. Ia kini lupa apa yang sedang dicarinya.

RENUNGAN:

Teman, pernahkah kita merasakan kalau hidup ini hanyalah suatu rentetan perulangan yang membosankan? Dari kecil, kita sebenarnya sudah dapat merasakannya, kita harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah, lalu pada siangnya kita pulang, mungkin sambil melakukan aktifitas lainnya, seperti belajar, nonton TV, tidur, lalu pada malamnya makan malam, kemudian tidur, keesokkan harinya kita kembali bangun pagi untuk bersekolah, dan melakukan aktifitas seperti hari kemarin, hal itu berulang kali kita lakukan bertahun-tahun !! Hingga akhirnya tiba saatnya

Untuk kita bekerja, tak jauh beda dengan bersekolah, kita harus bangun pagi-pagi untuk berangkat ke kantor, lalu pulang pada sore/malam harinya, kemudian kita tidur, keesokan harinya kita harus kembali bekerja lagi, dan melakukan aktifitas yang sama seperti kemarin, sampai kapan?

Pernahkah kita merasa bosan dengan aktifitas hidup kita?

Kalau ada di antara teman²ku ada yang merasakan demikian, dengarkanlah nasehatku ini :

“Bila hidup ini cuman suatu rentetan perulangan yang membosankan, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menemukan nilai baru di balik setiap peristiwa hidup.”

Artinya, jangan melihat aktifitas yang kita lakukan ini sebagai suatu kebiasaan atau rutinitas , karena jika kita menganggap demikian, maka aktifitas kita akan amat sangat membosankan !!

Cobalah maknai setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, mungkin kita akan menemukan suatu yang baru, sesuatu yang belum pernah kita ketahui sebelumnya,

“Setiap hari merupakan hadiah baru yang menyimpan sejuta arti.”

Tuesday, 7 May 2013

KISAH JOE STOKER : "SEANDAINYA..."


Joe stoker adalah seorang mekanik kereta api yang ramah, sayang sikapnya kurang bertanggung jawab dan sering menyepelekan dan menunda-nunda pekerjaan Dia juga seorang peminum, bila diingakkan dia selalu menjawab hanya meminum sedikit saja untuk menghangatkan badan.

Pada suatu malam, salju turun dengan lebatnya. Malam itu Joe kebetulan bertugas di atas kereta api yang sedang berjalan. Tiba-tiba, ada berita, bahwa kereta api lain akan datang terlambat. Sambil menunggu, Joe mulai menggerutu dan mengeluh karena berarti ia dan rekan-rekannya harus menunggu lebih lama, menunggu kereta lain lewat. Untuk mengisi waktu, diam-diam Joe mulai mengeluarkan botol whiskinya dan meminumnya. Beberapa saat kemudian, Joe mulai agak mabuk. Ia mulai tertawa-tawa dengan senang, sementara kondektur maupun masinis, hanya bisa melihat dengan prihatin padanya.

Setelah kereta berjalan beberapa saat, tiba-tiba kereta itu berhenti. Tutup silinder kereta api tiba-tiba terlepas. Sementara dalam waktu tidak lama lagi, kereta api cepat akan melalui rel yang sama dari belakang. Kondektur, dengan secepat kilat berlari ke arah Joe dan memerintahkannya untuk memasanglampu merah dan membawanya berjalan ke sepanjang rel di belakang. Namun, tukang rem yang agak mabuk ini tertawa dan berkata, “Ah, jangan tergesa-gesa. Kan katanya agak terlambat. Jadi masih adawaktu"

Kondektur itu menjawab dengan sungguh-sungguh, “Joe, ini sangat penting, jangan ditangguhkan satu menit pun. Kereta api cepat akan segera tiba dan saat itu mungkin kita sudah terlambat terlambat memberitahu! ”

“Baiklah,” kata Joe dengan ogah-ogahan. Sementara si kondektur sibuk mengurusi lokomotifnya, si Joe tukang rem itu, tidak langsung mengerjakan tugasnya. Dengan tenang, ia mengenakan jasnya terlebih dahulu. Lalu menghabiskan satu sloki whiski lagi untuk menghangatkan badannya. Kemudian, barulah perlahan-lahan ia mengambil lentera merah dan dengan melenggang santai ia berjalan sambil bersiul sepanjang rel.

Belum sampai sepuluh langkah, ia mendengar suara tanda kedatangan kereta api cepat. Ia mulai berlari dan berlari menuju ke arah kerata api cepat itu.

Tetapi semuanya sudah terlambat. Joe mencoba melambaikan lenteranya. Tapi, terlalu dekat jaraknya bagi kereta cepat untuk berhenti. Sesaat kemudian, terdengar besi-besi berat saling bertubrukan. Lokomotif kereta api cepat menabrak gerbong-gerbong yang sedang berhenti. Segera badan gerbong dan lokomotifnya menjadi ringsek, gerbong-gerbongpun hancur dan terhantam keras keluar dari relnya, diiringi teriakan para penumpang yang lebur binasa, bercampur dengan suara desis uap yang keluar lepas. Malam yang bisu itu menjadi saksi kecelakaan tabrakan antar kereta api yang menelan begitu banyak korban jiwa.

Bagaimana dengan Joe Stoker?. Saat orang mencarinya, Joe sudah menghilang. Malam harinya Joe ditemukan di sebuah lumbung dalam keadaan tidak waras, ia melambai-lambaikan lentera seakan-akan di depannya ada kereta api, sambil berteriak-teriak, “Ah, seandainya saya lakukan… seandainya saya lakukan…. seandainya”

RENUNGAN:

Seberapa sering kita menunda pekerjaan kita karena berpikir bahwa masih ada banyak waktu??

Sekarang adalah waktu terbaik, disaat kita masih mempunyai kesempatan, segeralah melakukan tindakan agar tidak menyesal kemudian.. lalu di kemudian hari kita hanya bisa berkata “seandainya. …. seandainya”