Saturday, 3 August 2013

KISAH BERAPA BERAT GELAS INI?


Seorang guru memulai kelasnya sambil memegang segelas air. "Menurut kalian,barapa berat gelas ini?"

"Lima puluh gram? Seratus gram? Para siswa menebak.

"Saya tidak tahu berapa berat gelas ini, kecuali kalau saya benar-benar menimbangnya" kata sang guru. "Tapi pertanyaan sesungguhnya adalah, 'Apa yang akan terjadi jika saya mengangkatnya seperti ini selama beberapa menit?

"Ya tidak terjadi apa-apa laaah!"

"Apa yang akan terjadi jika saya mengangkatnya seperti ini selama satu jam?"

"Pegal pak!"

"Benar. Bagaimana jika saya memegangnya seharian ini?"

"Lengan bapak pasti akan mati rasa. Bapak pasti akan stres berat dan mengalami kelumpuhan otot, lalu harus pergi ke rumah sakit pastinya," jawab siswa lain memberanikan diri, sambil setengah tertawa.

"Bagus. Tapi selama itu terjadi, akankah berat gelas mengalami perubahan?"

"Tidak".

"Lalu apa yang akan menyebabkan lengan ini sakit dan ototku kram?"

Para siswa terdiam. Bingung.

"Bapak harus meletakkan gelas itu". seorang siswa mencoba-coba.

RENUNGAN :
"Tepat! Masalah dalam hidup kita ya seperti itu juga. Coba simpan selama beberapa menit saja di kepala kalian, maka tidak terjadi apa-apa. Tapi coba kalian simpan untuk waktu lama, maka kalian akan mulai sakit kepala.
Simpan lebih lama lagi, maka kalian bisa jadi akan lumpuh".
Masalah hidup adalah ujian dari KEHIDUPAN dan tidak ada kemudahan serta kekuatan untuk menyelesaikannya selain dari diri kita sendiri.

10 Kebajikan untuk Pernikahan Bahagia (10 Rules for a Happy Marriage)



1. Never both be angry at the same time.
Jangan pernah marah berdua pada waktu yang bersamaan.

2. Never yell at each other unless the house is on fire.
Jangan pernah berteriak kepada satu sama lain kecuali rumah Anda kebakaran.

3. If one of you has to win an argument, let it be your mate.
Jika salah seorang dari kalian harus menjadi pemenang dalam suatu argumen, biarlah pasangan Anda yang menang.

4. If you have to criticize, do it lovingly.
Jika Anda harus memberikan kritik, lakukanlah dengan kasih sayang.

5. Never bring up mistakes of the past.
Jangan pernah membawa-bawa kesalahan masa lalu.

6. Neglect the whole world rather than each other.
Lebih baik mengacuhkan seluruh dunia daripada mengacuhkan satu sama lain.

7. Never go to sleep with an argument unsettled.
Jangan pergi tidur dengan argumen yang belum diselesaikan.

8. At least once every day try to say one kind or complimentary thing to your life’s partner.
Setidaknya satu kali dalam sehari, cobalah untuk mengatakan sebuah kalimat pujian / penghargaan kepada pasangan hidup Anda.

9. When you have done something wrong, be ready to admit it and ask for forgiveness.
Ketika Anda melakukan kesalahan, bersiaplah untuk mengakui kesalahan Anda dan minta maaf.

10. It takes two to make a quarrel, and the one in the wrong is the one who does the most talking.
Membutuhkan dua pihak untuk bertengkar, dan pihak yang salah biasanya adalah pihak yang berbicara paling banyak

Friday, 2 August 2013

(Kisah Nyata) Sumpah Serapah Sang Ibu yang menjadi kenyataan bagi anaknya


Kisah ini teman saya yang mempunyai ibu dengan kebiasaan mengucapkan kata-kata sumpah serapah saat dia masih anak-anak. Sampai sekarang sumpah serapah itu masih terus dia ingat. Mengapa dia bisa terus ingat sumpah serapah itu, bahkan sampai dia sudah punya cucu saat ini? Ini semua karena sumpah serapah almarhumah ibunya puluhan tahun yang lalu benar-benar terbukti padanya dan para saudaranya.

Sebagai anak pertama, teman saya adalah anak yang paling rajin dibandingkan adik-adiknya. Dia selalu membantu ibunya sehingga sang ibu jarang marah padanya. Sebaliknya adik-adiknya tidak serajin sang kakak. Akibatnya sang ibu sering marah pada mereka.

Saat marah, sang ibu sering mengeluarkan kata-kata sumpah serapah kalau besar nanti mereka hanya akan menjadi seorang pembantu dan sulit cari rejeki. Dan sang kakak akan menjadi juru tulis (sebutan pegawai negeri jaman dulu) dan gampang cari rejeki. Tahukah anda? Ternyata ucapan sang ibu terbukti setelah mereka beranjak dewasa.

Sang kakak benar-benar menjadi pegawai negeri dan saudara yang lain menjadi pembantu (TKI). Hidup sang kakak berkecukupan dan sebaliknya hidup saudara yang lain serba kekurangan walaupun gaji mereka cukup besar sebagai TKI.

RENUNGAN:
Dari kisah teman saya, semoga kita semua bisa mengambil pelajaran, terutama para ibu. Jagalah selalu ucapan anda. Sekali lagi, ucapan adalah doa, dan doa seorang ibu bisa mengalahkan doa 1000 ulama sekalipun. Berilah ucapan yang baik bagi anak-anak anda, karena ucapan atau doa ibu terhadap anaknya mempunyai kekuatan yang besar bagi terkabulnya doa.