Monday, 18 August 2014

KISAH KEBOHONGAN KADANG TIDAK SELAMANYA BURUK


Seorang bocah berusia tujuh tahun, Ofelia namanya, dia harus mendapat perawatan medis setelah menjalani operasi usus buntu. Karena dia hanya tinggal dengan ibunya, dan ibunya tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, maka Ofelia menginap di rumah sakit seorang diri. Ibunya hanya datang setelah pulang dari kantor saat matahari sudah beranjak dari ufuk Barat.

Ofelia gadis yang pemberani, dia tidak keberatan saat harus tinggal di rumah sakit hingga pulih. Lagipula, dia tidak seorang diri, ada pasien lain yang juga dirawat satu kamar dengannya. Gadis kecil itu tidak tahu seperti apa wajah pasien yang satu kamar dengannya, karena mereka berdua dibatasi oleh gorden lebar yang tidak tembus pandang. Para perawat juga tidak pernah memberi tahu Ofelia siapa gerangan pasien yang satu kamar dengannya.

Pada hari yang membosankan, Ofelia menyapa pasien di sampingnya. Ternyata pasien itu adalah seorang pria tua yang juga baru saja menjalani operasi yang sangat panjang. Kakek itu sebatang kara, dia bisa menjalani operasi berkat bantuan dana dari pemerintah. Ofelia senang berbincang dengan kakek itu, karena dia sangat baik dan suka menceritakan masa mudanya sebagai seorang tentara. Hari-hari Ofelia jadi menyenangkan.

Tetapi, ada satu hal yang tidak disukai Ofelia dari kamar perawatannya. Jendela kamar jauh dari tempat tidur, sedangkan Ofelia tidak boleh bangun dari ranjang karena bekas operasinya belum kering. Jendela itu dekat dengan jendela si kakek, sehingga Ofelia berniat untuk meminta bekas tentara itu untuk menceritakan ada apa di balik jendela kamar mereka.

"Kakek, aku ingin tahu ada apa di balik jendela itu. Aku tidak boleh beranjak dari sini. Apakah kakek bisa melihatnya dan menceritakan padaku ada apa di balik jendela itu?"

"Tentu saja sayang, aku bisa melihat dengan jelas apa yang ada di luar melalui jendela ini," ujar si kakek dengan suara yang bersemangat. "Ada taman penuh bunga mawar di sana, banyak kupu-kupu yang terbang, sinar matahari sangat hangat, hari yang sangat cerah Ofelia, semoga kau segera pulih dan bisa melihat semua itu,"

Ofelia tersenyum senang, seolah-olah tubuhnya bisa merasakan hangatnya sinar matahari di luar sana. Gadis kecil itu juga membayangkan betapa bagus bunga mawar di taman rumah sakit. Ditambah lagi, sang kakek setiap hari selalu menceritakan hal-hal menarik di luar jendela sana. Ada burung yang membuat sangkar di sebuah pohon, ada air mancur dan banyak ikan di dalamnya.

Ofelia ingin segera sembuh, ingin melihat langsung pemandangan di luar sana. Dia menuruti semua saran dokter, perawat, dan ibunya. Akhirnya hari itu tiba, Ofelia sudah boleh pulang. Sedangkan sang kakek masih harus tinggal di rumah sakit. Karena selama ini Ofelia tidak pernah melihat wajah sang kakek, dia berniat untuk berterima kasih dengan membesuk sang kakek.

Sungguh tidak diduga, ternyata sang kakek buta. Beliau telah menjalani operasi kornea mata tetapi gagal. Selama ini dia berbohong tentang taman mawar, kupu-kupu, burung, dan air mancur di luar jendela. Di luar jendela, hanya ada deretan kamar lain, tidak ada taman apalagi yang penuh dengan bunga mawar dan kolam. Ofelia menangis, dia tidak menangis karena telah dibohongi, tetapi karena dia sangat berterima kasih kepada kakek itu.

Berkat cerita yang indah tentang ada apa di balik jendela, Ofelia memiliki motivasi untuk segera sembuh. Sejak saat itu, Ofelia selalu membesuk sang kakek hingga dia keluar dari rumah sakit. Mereka tetap berteman dan bertemu di taman kota untuk berbagi cerita, layaknya seorang kakek dan cucunya.

RENUNGAN :
kadang berbohong tidak selamanya buruk, bahkan kebohongan dari orang yang tidak kita kenal. Jangan selalu berburuk sangka pada seseorang yang pernah membohongi Anda, karena selalu ada pelajaran yang bisa Anda ambil di balik setiap kebohongan yang tercipta.

KISAH KEBAHAGIAAN DENGAN HATI YANG RUSAK


Alkisah, hiduplah seorang kakek dan seorang pemuda. Pada masa itu, semua manusia bisa memamerkan hatinya, setiap hati bisa diperlihatkan pada orang lain, karena tubuh di bagian dada tidak tertutup daging, sehingga bila pakaian dibuka, hati terlihat, tidak seperti sekarang di mana hati tidak tampak dan harus diperlihatkan dengan suara, tulisan, pandangan dan sentuhan.

Sang kakek dan sang pemuda jelas berbeda umur, berbeda pemikiran dan memiliki hati yang sangat berbeda. Sang kakek yang bekerja sebagai penebang kayu sering tidak memakai pakaian atas karena panasnya cuaca, sehingga hatinya terlihat. Hati sang kakek penuh dengan bekas luka dan berlubang. Hati kakek itu lebih mengerikan daripada keriput pada kulitnya.

Sedangkan sang pemuda yang masih gagah dan tampan, dia sering tidak memakai pakaian atas sebagai bentuk pamer dan kesombongan. Pemuda itu memiliki hati yang bersih, mulus, tanpa cacat sedikitpun. Baginya, hal itu adalah hal yang membanggakan. Dia akan memamerkan pada semua orang yang ditemui mengenai hati yang bersih tanpa satu goresan.

Lalu pada suatu hari, mereka bertemu. Si pemuda tertawa terbahak-bahak dengan angkuh. Dia menepuk dadanya dan sesumbar mengatakan, "Hai, kakek yang malang, coba kau lihat hatiku! Tidak ada cacatnya, aku menjaga dengan baik benda berharga ini. Sedangkan milikmu... Astaga, kau pasti tidak bisa menjaganya dengan baik,"

Sang kakek yang sudah renta itu hanya tersenyum, tidak ada guratan marah di dalam matanya. Dia menatap hatinya yang penuh luka, sangat berbeda dengan milik sang pemuda. Lalu kakek itu berkata, "Wahai pemuda, kenapa kau sangat menjaga hatimu?"

Pemuda sombong itu mengangkat sebelah alisnya, "Tentu saja, karena hati adalah benda yang sangat berharga, seharusnya kau tahu itu," Si kakek menjawab, "Tentu saja aku tahu, wahai anak muda. Aku tahu bahwa hati adalah sesuatu yang berharga. Kenapa dia berharga? Karena selama hidup, kau harus membaginya dengan orang lain,"

Sang pemuda terdiam lama, suara sang kakek yang bijaksana membuatnya berniat untuk mendengarkan kalimat sang kakek hingga habis. "Kau boleh saja sangat menjaga hatimu, tetapi apakah kau bahagia hanya dengan memamerkannya dan tidak membaginya dengan orang lain? Wahai pemuda, aku membiarkan hatiku dilukai orang lain, termasuk wanita. Aku juga memberikan beberapa potong hatiku untuk orang lain, bahkan orang-orang yang tidak aku kenal, dan aku bahagia karenanya, karena hatiku bisa membahagiakan orang lain. Sekalipun hatiku penuh luka dan berlubang, itulah hati yang seharusnya kau bagi dengan orang lain,"

Sang pemuda akhirnya menyadari bahwa makna dari hati adalah untuk dibagikan dengan orang lain, sekalipun hatinya harus rusak dan berlubang. Akhirnya dia mencongkel sedikit bagian hatinya dan diberikan untuk sang kakek untuk menambal sedikit bagian yang berlubang. Sang kakek berterima kasih atas pemberian itu. Dan sang pemuda, sejak hari itu mulai membagi hatinya pada orang lain. Tidak hanya itu, ada beberapa orang yang menambal hatinya yang berlubang. Dia berbahagia karena hal itu.

RENUNGAN:
Tidak selamanya Anda harus meratapi hati Anda yang terluka, patah, atau hancur. Percayalah, akan ada orang lain yang bisa menambal hati Anda. Berbahagialah karena Anda telah berani membagikan hati Anda pada orang lain.

KISAH SI KEMBAR AM DAN MA


Adalah Am dan Ma, anak kembar yang bekerja sebagai pembawa air di sebuah keluarga kaya. Setiap pagi mereka akan membawa kaleng-kaleng berisi air ke rumah keluarga tersebut.

Am, adalah kembar tertua, ia punya sifat yang angkuh, tak mau susah dan egois. Am tak pernah mau mengalah dari Ma, adiknya. Apapun yang diingini harus tercapai, dan Am selalu ingin semua benda yang dimilikinya adalah yang terbaik. Sampai-sampai, kaleng timba miliknya yang sudah rusak ditukarnya dengan milik Ma untuk dipakai.

Sedangkan Ma, adalah adik yang baik. Apapun yang diberikan kakaknya, ia terima dengan tersenyum dan tak pernah marah. Dengan kaleng timba bocor milik Am, ia pun pergi bekerja tak kenal lelah. Tak sedikitpun ia mengeluh, walaupun ia harus bolak balik dua kali lebih lama dari kakaknya.

Seorang tetangga pernah bertanya, mengapa Ma tak membeli kaleng timba baru saja. Namun, Ma bilang tak punya uang. Penghasilannya selama ini digunakan sebagai biaya pengobatan ibunya yang sakit keras.

Suatu hari, Am dan Ma berangkat menimba air. Mengirimkannya ke tempat keluarga kaya seperti biasanya. Di tengah jalan, Am bertanya pada Ma, "Mengapa kamu tetap terlihat bahagia padahal kamu harus bekerja keras dengan kaleng yang reyot itu?" Kemudian Ma menjawab dengan senyum dan suara lembut, "Tak apa kakak, aku senang kok. Kaleng ini sangat berharga bagiku, ia banyak membantuku. Dan aku yakin, sebentar lagi ia akan membawa keberuntungan besar," jawab Ma. Sang kakak heran, mengapa adiknya itu begitu bodoh dan mau melakukan hal yang tak masuk akal, ia juga sebal terhadap senyum Ma yang selalu terlihat tak ada beban itu. "Bagaimana bisa kau bilang kaleng rusak itu membawa keberuntungan, kalau aku jadi kamu, sudah kutendang kaleng itu jauh-jauh dan kubuang!" kata Am. Kali ini, Ma berhenti sejenak, "Coba lihat di sekelilingmu, Kak. Apa yang kau lihat?"

Am berhenti dan menikmati pemandangan indah bunga-bunga di sepanjang jalan. Air yang selama ini menetes dari kaleng timba bocor milik Ma lah yang telah menyirami semua bunga itu hingga tumbuh subur dan indah. Esok hari, Ma akan memanen bunga itu dan menjualnya ke kota. "Bukankah aku sangat beruntung, Kak..." kata Ma.

RENUNGAN:

Ingatlah, tidak semua kekurangan itu buruk. Bisa jadi kekurangan yang Anda miliki adalah sebuah kelebihan yang masih terbungkus rapi dan belum Anda buka...